kisah Ibu Juswati: 40 Tahun Menantang Nasib di Pasar Pagi Panji Situbondo, Menabung Demi Anak dan Impian ke Tanah Suci

Jul 8, 2026 - 08:32
 70
kisah Ibu Juswati: 40 Tahun Menantang Nasib di Pasar Pagi Panji Situbondo, Menabung Demi Anak dan Impian ke Tanah Suci

SITUBONDO,– Di tengah hiruk-pikuk Pasar Pagi Panji Situbondo, Jawa Timur, sesosok wanita paruh baya tampak cekatan menata bungkusan kerupuk dan aneka jajanan di lapak sederhananya. Namanya Ibu Juswati. Di kalangan pedagang setempat, ia adalah potret ketangguhan yang nyata. Hampir empat dekade lamanya, Juswati menggantungkan hidup dan masa depan keluarganya dari meja pasar tersebut.

Perjalanan panjang wanita asal Panji, Situbondo ini dimulai jauh sebelum ia membina rumah tangga pada tahun 1988 silam. Mengenang masa lalunya, Juswati mengaku sudah akrab dengan dunia perdagangan sejak ia baru lulus dari bangku Sekolah Dasar (SD).

"Mulai kanak-kanak saya sudah jualan, gantiin ibu. Sebelum nikah tahun '88 itu sudah jualan. Pertama jual kacang sama jagung, terus berkembang ke tempe, dan sekarang fokus jualan kerupuk," kenang Juswati saat ditemui di sela-sela aktivitas dagangnya, Sabtu (09/6/2026).

Konsistensi dan Manajemen Risiko di Lapak Pasar

Kini, dalam sehari Juswati mampu menghabiskan tiga hingga empat bal kerupuk. Usahanya mengombinasikan sistem produksi mandiri dengan kemitraan. Sebagian kerupuk ia goreng dan olah sendiri di rumah, sementara sebagian lainnya dipasok oleh pengirim yang rutin mengantarkan barang dagangan ke lapaknya.

Menjadi pedagang pasar selama puluhan tahun tentu bukan tanpa rintangan. Juswati tak menampik bahwa kerugian terkadang menghampiri, terutama saat dagangannya tidak laku dan menjadi melempem atau dalam istilah lokal disebut tenden.

"Ya pernah rugi, kalau enggak laku kerupuknya jadi melempem. Tapi kerugian itu saya tanggung sendiri. Tapi kalau sudah layu banget dan enggak bisa diselamatkan, terpaksa dibakar," tuturnya.

Setiap harinya, rutinitas Juswati dimulai tepat setelah azan Subuh berkumandang. Ia bergegas menuju pasar yang menempati lapak pemberian pemerintah untuk pedagang lama tersebut—dengan biaya sertifikat administrasi serta retribusi parkir harian.

Ia baru kembali ke rumah sekitar pukul 10.00 WIB untuk beristirahat. Setelah menunaikan shalat Dzuhur, ia kembali melanjutkan pekerjaannya mempersiapkan dagangan untuk hari berikutnya.

Filosofi 'Sedikit-sedikit Menjadi Bukit' Lewat BMT UGT

Salah satu hal yang paling mengagumkan dari sosok Juswati adalah kemandirian finansialnya. Ia tercatat sebagai salah satu anggota paling setia di Baitul Maal wat Tamwil (BMT) UGT Nusantara. Selama hampir 17 tahun, ia konsisten menyisihkan sebagian kecil keuntungan hariannya untuk ditabung.

"Punya uang sedikit, nabung di BMT. Sedikit-sedikit jadi bukit. Saya enggak pernah pinjam-pinjam, modal usaha sendiri semua," katanya dengan bangga.

Dari hasil tabungan yang dikumpulkan dengan penuh kesabaran itulah, Juswati berhasil membiayai keperluan hidup dan pendidikan ketiga anaknya. Kini, dua dari anaknya telah menikah, salah satunya berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi (kuliah), dan anak bungsunya saat ini tengah menimba ilmu di pondok pesantren.

Juswati juga sangat jeli melihat peluang pasar. Pada hari-hari biasa, ia hanya mengemas 3 hingga 5 kilogram kacang. Namun, saat momentum Ramadhan dan Lebaran tiba, ia menaikkan volume penjualan hingga 20 sampai 30 kilogram dengan strategi kemasan besar yang lebih cepat terjual. Begitu pula saat bulan Maulud tiba, ia melakukan diversifikasi produk dengan beralih menjual kue basah demi menambah pendapatan keluarga.

Prinsip Hidup Teguh dan Impian Agung ke Tanah Suci

Meski hidup di era digital, Juswati memilih untuk tetap membumi. Ia mengaku sama sekali tidak memiliki ponsel pintar ataupun memahami teknologi modern. Baginya, fokus utama adalah bekerja dengan jujur, berdoa, dan menjaga ketenangan hati.

Ketika ditanya mengenai persaingan ketat di antara sesama pedagang pasar pagi, wanita tangguh ini menjawabnya dengan sangat bijak. Ia tidak pernah menganggap kehadiran pedagang lain sebagai ancaman yang harus ditakuti.

"Biar saja ada saingan, ya biasa kan di pasar pagi begitu. Rezeki saya ya rezeki saya, tidak akan tertukar. Pokoknya saya enggak pernah bermasalah dengan orang lain," ucapnya dengan nada tenang.

Di usianya yang tak lagi muda, Juswati masih menyimpan satu impian besar yang menjadi bahan bakar semangatnya setiap hari. Ia berharap tabungan yang dikumpulkannya dari rezeki kerupuk dan kacang tersebut kelak bisa membawanya menginjakkan kaki di Tanah Suci.

"Cuma satu keinginan saya sekarang, bisa lihat Mekah dan Madinah. Pengen umroh atau haji kalau sudah panggilan-Nya. Amin. Harapan saya, mudah-mudahan usaha ini bisa maju terus," pungkas Juswati mengakhiri perbincangan.