10 Tahun Meniti Berkah Bersama BMT UGT Nusantara di Malang
MALANG – Di sudut Jalan Raya Sempol, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang, deretan botol jamu tradisional tertata rapi bersanding dengan tumpukan barang kebutuhan pokok. Di balik etalase itu, sosok Suherman (50) tampak sibuk melayani pembeli. Siapa sangka, berawal dari lapak jamu sederhana 15 tahun lalu, kini ia sukses mengembangkan sayap usahanya berkat konsistensi dan kemitraan yang kuat.
Perjalanan ekspansi usaha Suherman tidak lepas dari peran BMT UGT Nusantara. Pria yang telah menjadi anggota selama hampir satu dekade ini mengisahkan awal mula perkenalannya dengan lembaga keuangan syariah tersebut.
Berawal dari "Jemput Bola" Karyawan
Suherman mengaku mengenal BMT UGT Nusantara melalui pendekatan personal karyawannya yang rajin berkeliling ke pelosok kampung dan pasar-pasar tradisional.
"Dulu tahu UGT ya dari karyawannya yang keliling. Komunikasinya enak, jadi saya tertarik untuk bergabung," ujar Suherman saat ditemui di kediamannya sekaligus tempat usahanya di Pagak.
Langkah besar pertamanya dimulai saat ia memutuskan mengambil pembiayaan untuk membeli sebidang tanah. Tanah tersebut diniatkan untuk membangun tempat usaha yang lebih layak, mengingat kala itu warung jamunya masih sangat kecil dan terbatas.
Dari Jamu ke Toko Sembako
Seiring berjalannya waktu, tempat usaha yang lebih luas memungkinkan Suherman untuk berinovasi. Ia tidak hanya bertahan dengan jualan jamu yang sudah ditekuni selama belasan tahun, tetapi juga menambah unit usaha baru berupa toko sembako.
"Dulu tempat jamu saya sangat kecil. Semakin ke sini, berkat tambahan modal dari BMT UGT Nusantara, saya bisa buka toko sembako juga. Alhamdulillah, usaha jadi berkembang," tuturnya.
Manajemen Keuangan: Nabung Dulu, Angsur Kemudian
Salah satu hal yang menarik dari cara Suherman mengelola keuangan adalah ketenangannya dalam menghadapi kewajiban bulanan. Ia mengaku tidak pernah merasa terbebani dengan angsuran pembiayaan.
Strateginya sederhana: disiplin menabung.
"Saya tidak terlalu ambil pusing soal angsuran. Karena tiap bulan saya selalu rutin menabung, jadi angsurannya dipotong otomatis dari saldo tabungan. Sangat memudahkan," jelas Suherman.
"Sudah Seperti Saudara Sendiri"
Bagi Suherman, hubungan dengan BMT UGT Nusantara bukan sekadar hubungan antara nasabah dan bank. Ia merasa lembaga ini sudah seperti keluarga sendiri. Ada beberapa poin plus yang menurutnya tidak ditemukan di tempat lain:
- Tanpa Penalti: Keistimewaan yang paling ia rasakan adalah kebijakan pelunasan sebelum jatuh tempo. Di BMT UGT Nusantara, anggota tidak dikenakan denda atau penalti jika ingin melunasi pembiayaan lebih awal.
- Prinsip Syariah: Sebagai masyarakat Malang yang religius, sisi syariah menjadi landasan kenyamanan dalam bertransaksi.
- Pelayanan Ramah: Keramahan karyawan menjadi kunci loyalitasnya selama 10 tahun terakhir.
"Selain berkahnya syariah, pelayanannya sangat manusiawi. Karyawannya ramah-ramah. Itu yang buat saya betah dan percaya sampai sekarang," pungkasnya.
Kisah Suherman menjadi potret nyata bagaimana pembiayaan mikro yang tepat sasaran mampu mengubah pelaku UMKM kecil menjadi pengusaha yang lebih berdaya di tingkat desa.

