Kisah Aprilia: Perjalanan Menjadi Juragan Sembako Sukses di Situbondo, Pernah Ditipu Puluhan Juta Tetap Bangkit
SITUBONDO — Memulai bisnis dari nol tanpa pengalaman sama sekali bukanlah perkara mudah. Namun, hal tersebut berhasil dibuktikan oleh Aprilia Alfianti, seorang mantan santriwati yang kini sukses menjadi juragan sembako di Pasar Panji, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.
Dalam kurun waktu enam tahun, Aprilia sukses membangun gurita bisnis kecilnya hingga mampu menunaikan ibadah haji dan membeli kendaraan pribadi. Padahal, modal awalnya hanya berupa uang tabungan hasil bekerja pada mertuanya.
Hijrah dari Pondok Pesantren ke Pasar
Latar belakang Aprilia jauh dari dunia usaha. Perempuan asal Jember ini menghabiskan waktu selama sembilan tahun untuk menimba ilmu di salah satu pondok pesantren, dilanjutkan dengan kuliah. Setelah menikah, ia diboyong sang suami ke Situbondo.
"Awalnya kegiatan sebelum usaha ini, saya mulai dari SD mondok selama sembilan tahun, kuliah di Jember. Karena asal saya Jember, jadi nikah ke Situbondo. Jadinya saya buka usaha langsung ke Pasar Panji," ujar Aprilia saat ditemui di lapaknya.
Tanpa bekal pengalaman kerja di tempat lain, kedisiplinan yang ia tempa selama di pesantren menjadi modal utamanya dalam mengelola usaha sembako yang menjual mulai dari beras, telur, mi, hingga minyak goreng.
Pahit Getir Ditipu Pelanggan dan Pemasok
Perjalanan bisnis Aprilia tidak selalu mulus. Ia mengaku sudah kenyang memakan asam garam dunia perdagangan, mulai dari menghadapi pelanggan yang hobi berutang hingga menjadi korban penipuan hingga puluhan juta rupiah.
Pengalaman pahit terbesar yang pernah dialaminya adalah saat ditipu oleh oknum pemasok telur asal kota lain yang sudah setahun bekerja sama dengannya. Saat itu, Aprilia sudah menyetor uang muka (DP) sebesar Rp60 juta untuk pemesanan satu truk telur, namun barangnya tidak pernah datang dan pelaku menghilang.
"Uang hangus, tidak ada barang, tidak ada telur. Saya sudah ke pihak polisi sama suami. Tapi akhirnya saya mengikhlaskan," kenangnya.
Tak berhenti di situ, ia juga pernah merugi hingga Rp39 juta setelah seorang pelanggan tetap yang sudah dua tahun berlangganan mendadak kabur tanpa membayar barang yang dibawa. Di pasar sendiri, ia kerap menghadapi kehilangan barang akibat ulah oknum internal sendiri.
Untuk menyiasati pelanggan yang suka menunggak utang, Aprilia menerapkan prinsip ketegasan yang diadopsinya dari kedisiplinan pesantren.
"Saya bukan orang sabar. Kalau ada yang ngutang, saya tegas bahwasannya harus bayar sekian, tanggal sekian. Harus gitu," cetusnya.
Merambah dunia digital
Guna mengusir kejenuhan di pasar, Aprilia kini mulai merambah belajar dunia digital dengan melakukan siaran langsung (live) di TikTok untuk menjual dagangan kosmetiknya, yang kini juga menjadi sumber penghasilan tambahan.
Saat ini, bisnis sembakonya telah berkembang pesat. Aprilia dan suami kini dibantu oleh enam orang karyawan—tiga orang berjaga di toko dan tiga lainnya membantu suaminya untuk sistem jemput bola atau sales.
Terbantu Layanan 'Jemput Bola'
Salah satu faktor yang mendukung kelancaran usahanya adalah manajemen keuangan yang baik. Sebagai pedagang pasar yang tidak bisa meninggalkan toko, Aprilia merasa sangat terbantu oleh layanan dari BMT UGT sejak tahun 2022.
"Lebih enaknya saya di BMT itu dijemput (tabungannya). Saya kan enggak bisa ke mana-mana kalau pagi, kerja di sini. Jadi ke saya lebih praktis," jelas Aprilia.
Dari hasil keringatnya selama enam tahun terakhir, Aprilia bersyukur banyak impiannya yang sudah tercapai, termasuk membiayai sekolah anak. Ia berharap usahanya terus maju dan mampu menambah aset di masa depan.

