Jaga Kebugaran, Karyawan KSPPS BMT UGT Nusantara Rutin Olahraga Bulutangkis Dua Kali dalam Seminggu

Agu 25, 2024 - 10:26
Agu 25, 2024 - 10:27
 2514
Jaga Kebugaran, Karyawan KSPPS BMT UGT Nusantara Rutin Olahraga Bulutangkis Dua Kali dalam Seminggu
Jaga Kebugaran, Karyawan KSPPS BMT UGT Nusantara Rutin Olahraga Bulutangkis Dua Kali dalam Seminggu

Bulutangkis atau badminton merupakan salah satu olahraga yang paling populer di tengah-tengah masyarakat setelah sepakbola. Tak heran jika bulutangkis digandungrungi banyak orang dan banyak yang memainkannya.

Sejarah singkat bulu tangkis dijelaskan dalam laman resmi Persatuan Bulu Tangkis Indonesia (PBSI), yang bermula dari permainan battledore yakni menepak bola ke depan maupun belakang selama mungkin. Model permainan tersebut diperkirakan sudah dilakukan sejak lebih dari ribuan tahun lalu di India, Cina, Jepang, Thailand, hingga Yunani. Kepopuleran bulu tangkis kemudian meningkat, saat orang-orang mengenal permainan tepok bola tersebut dari istana Badminton House, Gloucestershire, Inggris.

Duke of Beaufort, pemilik bangunan tersebut, beserta keluarganya kerap menggelar permainan tersebut yang diikuti oleh 11 orang anak-anaknya. Permainan tersebut lantas dibawa oleh tentara kerajaan Inggris menuju India, yang menyelenggarakannya secara terbuka serta menambahkan jaring agar pesertanya bisa bermain secara bergiliran. Menurut Encyclopaedia Brittanica, regulasi awal olahraga bulu tangkis disusun oleh sebuah klub bernama Badminton Batha di Inggris.

Hingga pada akhirnya terbentuk asosiasi bulu tangkis Inggris pada 1893, yang lantas berujung pada pendirian Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) pada 1934.

Sedangka di Indonesia, penyebaran olahraga bulu tangkis terjadi berkat pengaruh dua negara tetangga yang menjadi persekutuan Inggris di Asia Tenggara, yakni Malaysia dan Singapura. Mengacu pada buku Bulu Tangkis Dasar (2017) karya Dhedy Yuliawan, permainan ini mulai dikenal di wilayah Sumatera pada 1930an, sebelum akhirnya tiba di Jakarta. Kemunculan permainan bulu tangkis di Ibu Kota dibuktikan dengan adanya pembentukan perkumpulan bulu tangkis Bataviase Badminton Bond dan Bataviase Badminton League pada 1933. Tidak hanya terbatas pada kegiatan di tingkat perkumpulan, permainan bulu tangkis semakin populer dengan adanya kejuaraan di sejumlah wilayah Pulau Jawa.

Antusiasme pengembangan olahraga tersebut mendorong terbentuknya Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) pada 5 Mei 1951, yang juga Kepengurusan organisasi ini tersebar ke sejumlah provinsi dengan sebutan Pengda (Pengurus Daerah) hingga ke tingkat Pengcab (Pengurus Cabang) di wilayah kotamadya/kabupaten.

Maka dari itu wajar jika bulutangkis bisa populer dan banyak dikenal orang hingga ke tingkat desa atau bahkan ke plosok sekalipun. Seperti halnya karyawan kantor pusat BMT UGT Nusantara, mereka rutin olahraga bermain bulu tangkis dua kali dalam seminggu setiap hari Ahad dan hari Rabu sepulang kerja.

Aminulloh salah satu karyawan yang rutin main bulutangkis mengungkapkan bahwa tujuan bermain bulutangkis ini tak lain untuk menjaga kebugaran, kesehatan dan kekompakan antar karyawan sehingga kita bisa fit dan maksimal dalam bekerja di BMT UGT Nusantara.

Sementara untuk lokasinya mereka biasanya bermain bulutangkis di Lapangan Badminton Kampoeng Gedang Desa Jeruk Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan. Pada pertandingan terakhir kemarin Ahad (4/8/2024) mempertemukan Tim Venus dengan Tim Jupiter yang dimenangkan oleh Tim Venus dengan skor 21-18.