Berbagi Kebahagiaan di Hari Raya Idul Fitri
Hari Raya Idul Fitri merupakan hari sukacita bagi umat Islam. Mulai dari anak-anak, remaja, bapak-bapak, ibu-ibu sampai kakek-kakek menyambut kedatangan Hari Raya dengan hati gembira. Setelah sebulan penuh mereka berpuasa Ramadhan, mereka layak untuk merayakan hari kemenangan.
Bagaimanakah merayakan Hari Raya Idul Fitri atau lebaran agar lebih bermakna bukan hanya bagi diri sendiri dan keluarga, namun juga bermakna bagi kehidupan orang lain terutama orang-orang yang kurang mampu?
Bagi keluarga yang mampu, seminggu atau bahkan jauh sebelum Hari Raya Idul Fitri, mereka telah menyiapkan segala sesuatunya. Mereka membeli baju baru, sandal baru, sepatu baru, kopiah dan sajadah baru. Mungkin ada juga yang membeli jam baru, perabotan rumah baru bahkan kendaraan baru.
Selain itu, mereka juga berbelanja berbagai makanan istimewa yang akan dihidangkan pada saat lebaran tiba. Bukan hanya itu saja, mereka bahkan telah menyiapkan bekal untuk mudik lebaran ke rumah orang tua, kerabat atau famili yang ada di kampung.
Namun tidak semua keluarga memililiki kemampuan finansial sehingga dapat menyambut datangnya lebaran seperti itu. Masih banyak keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan yang hidup sebagai pemulung, kuli bangunan, ataupun pekerja kasar lainnya.
Jangankan untuk membeli baju baru, untuk bekal makanan esok hari saja mereka harus mencarinya hari ini. Keluarga seperti itu, tentu saja, akan mengalami kesulitan untuk membeli pakaian baru.
Pada saat itu, seorang kepala keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan akan mengalami kesusahan yang luar biasa. Tentunya dia ingin membahagiakan keluarganya pada Hari Raya Idul Fitri, namun apa daya kemampuan finansialnya sangat tidak menunjang.
Sementara anak-anaknya sudah “merengek’ minta dibelikan baju baru karena teman-teman mereka memiliki baju baru. Dapat dibayangkan, betapa pusingnya menjadi seorang kepala kelurga dalam keadaan seperti itu.
Selain keluarga yang hidup serba pas-pasan, anak-anak yatim di panti-panti asuhan juga mengalami keadaan yang kurang menguntungkan. Mereka menunggu uluran tangan dari para dermawan agar dapat mengenakan pakaian baru pada saat lebaran. Bila tidak ada orang yang memperhatikan nasib mereka, bagaimanakah mereka akan dapat merayakan lebaran dengan hati gembira?
***
Karena itu, menjelang lebaran tiba merupakan saat yang tepat untuk berbagi kebahagiaan kepada keluarga yang tidak mampu ataupun kepada anak-anak yatim yang tidak memiliki orang tua. Saat menjelang lebaran tiba, cobalah mengingat orang-orang di sekeliling yang hidup susah. Dengan mengingat mereka, diharapkan dapat muncul kesadaran untuk menyisihkan dari sebagian rezeki untuk membahagiakan mereka yang kurang beruntung.
Saat membeli baju baru dan makanan, misalnya, kita tidak hanya membeli untuk diri sendiri dan keluarga kita, tetapi juga mengingat orang lain yang tidak dapat berbelanja seperti kita. Lalu tergerak hati untuk berbagi kebahagiaan pada saat lebaran dengan membelikan pakaian buat lebaran untuk mereka juga.
Setelah membelikan pakaian baru bagi keluarga, kita juga membelikan pakaian bagi kelurga yang kurang mampu. Kemudian sepulang dari membeli pakaian baru itu, bila dimungkinkan bersama keluarga kita mendatangi rumah dari keluarga yang kurang beruntung atau ke panti asuhan untuk memberikan pakaian baru yang kita beli buat mereka.
Saat memberikan pakaian baru itu, lihatlah betapa mereka sangat bergembira sekali menerimanya. Ketika mereka mengucapkan “terima kasih”, lihatlah rona wajah mereka yang memancarkan kebahagiaan. Bukan hanya mereka, kita pun yang memberikan akan merasakan kegembiraan yang sama.
Bila tidak dapat membelikan baju baru, kita masih dapat berbagi kebahagiaan misalnya dengan memberikan makanan ataupun minuman yang nantinya dapat mereka hidangkan saat hari raya. Misalnya, membelikan kue kaleng atau minuman dalam kemasan yang biasa disuguhkan kepada para tamu saat lebaran. Tentu, mereka juga akan sangat berterima kasih dengan pemberian itu.
Sekiranya kedua hal itu tidak dapat kita lakukan, tepat pada hari lebaran kita dapat mengunjungi mereka dan membawakan ketupat dan opor ayam yang dapat kita makan bersama-sama dengan mereka. Makan bersama dengan keluarga yang kurang mampu, selain membawa kebahagiaan bagi mereka juga akan semakin mempererat tali silaturahmi.
Dengan cara begitu, jurang pemisah antara si kaya dan si miskin yang menimbulkan kecemburuan dan ketidakadilan sosial akan runtuh dan berganti menjadi keakraban dan persaudaraan sesama umat. Betapa indahnya hidup berdampingan dengan saling berbagi seperti itu.
Teladan dari Rasulullah
Membagi kebahagiaan pada Hari Raya Idul Fitri merupakan amal saleh yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Beliau pernah membagi kebahagiaan terhadap seorang anak yang hidup terlantar karena ditinggal oleh ayahnya dan tak diperdulikan lagi oleh ibunya. Bukan hanya itu saja, bahkan Rasulullah SAW menjadikan anak tersebut sebagai anak angkatnya.
Diriwayatkan bahwa Anas bin Malik mengisahkan, suatu ketika Rasulullah SAW keluar dari rumahnya menuju tempat pelaksanaan shalat hari raya Idul Fitri. Di tengah perjalanan, beliau melihat beberapa orang anak yang sedang asyik bermain. Di antara anak-anak itu terdapat seorang anak yang sedang duduk menyendiri, menangis dan berpakaian kumal.
Rasulullah SAW menghampiri anak itu lalu bertanya mengapa dia tidak ikut bermain, menyendiri dan menangis. Anak itu menjawab dengan jawaban yang menunjukkan ketidaktahuannya bahwa yang sedang bertanya itu adalah Rasulullah SAW.
“Pak, ayahku telah meninggal di medan perang bersama Rasulullah SAW. Kemudian ibuku menikah lagi dengan seorang laki-laki lain. Setelah ibuku menghabiskan uangku, aku diusir oleh suaminya sehingga aku menjadi terlantar, tak memiliki tempat tinggal, tidak memiliki pakian dan tidak terjamin makananku sehari-hari,” kata anak itu mengisahkan keadaan yang menimpa dirinya.
“Aku menangis karena teringat akan ayahku. Aku melihat anak-anak sebayaku yang masih memiliki ayah dan ibu itu bersuka ria merayakan Idul Fitri,” katanya sedih.
Rasulullah SAW kemudian berkata kepada anak itu, “Maukah engkau menjadi anakku dan aku menjadi ayahmu, Aisyah menjadi ibumu, ‘Ali menjadi pamanmu dan Hasan-Husain-Fathimah menjadi suadara-saudaramu?”
Dengan rasa gembira anak itu menerima tawaran Rasulullah SAW. Anak itu kemudian diajak oleh Rasulullah SAW ke rumahnya, diberi pakaian dan makanan kemudian disuruh untuk kembali bermain dengan teman-temannya.
Dengan wajah yang riang, anak itu bermain dengan teman-temannya. Ketika itu salah seorang temannnya bertanya, “Engkau tadi menangis dan bersedih, tapi sekarang engkau tampak bergembira, berpakian rapi dan harum. Apakah yang telah mengubah keadaaanmu?”
Anak itu kemudian menceritakan apa yang telah dialaminya dan keadaannya sekarang ini yang telah menjadi keluarga Rasulullah SAW. Mendengar cerita anak itu, teman-temannya berkata, “Oh, alangkah bahagianya sekiranya ayah-ayah kami meninggal di medang perang bersama dengan Rasulullah SAW.”
Sumber tulisan: Buletin An-Nahdliyah Edisi Syawal 1437 H
Sumber gambar: http://www.idntimes.com/
Mokh. Syaiful Bakhri

