Saatnya Santri Mengatur Menuju Indonesia Makmur

Feb 6, 2014 - 00:00
 49
Saatnya Santri Mengatur  Menuju Indonesia Makmur

Oleh H. Mahmud Ali Zain *

 

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

(QS. al-Baqarah [2]: 208)

Islam hadir untuk memberikan kemaslahatan bagi segenap makhluk hidup. Ini dapat dilihat dari tujuan ajarannya (maqâshidusy-syarî’ah), yaitu untuk menjaga eksistensi agama (hifdzud-dîn), personal makhluk (hifdzun-nafs), keturunan (hifdzun-nasl), harta benda (hifdzul-mâl), dan akal fikiran (hifdzul-‘aqli). Dari itu, kita wajib memperjuangkannya sehingga syariat Islam dapat diterapkan secara kâffah (keseluruhan). Tidak di ranah ibadah semata, tetapi juga dalam mu’âmalah (sosial), dls.

Ada banyak hal yang menjadi tugas dalam perjuangan kita. Antara lain yang telah kita rancang adalah program qaryah thayyibah (desa yang baik), yang nantinya sesuai dengan firman Allah:

“Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.”(QS. Qurasy [106]: 03-04). Dari ayat ini, ada dua poin yang menjadi perhatian kita, yaitu ath’amahum min-ju’ (kesejahteraan) dan âmanahum min-khauf (ketentraman), yang telah kita kemas dalam program MAS (Mandiri, Aman, dan Sejahtera).

Dalam rangka menyukseskan program ini, kita menggalakkan civil society atau gerakan masyarakat madani, antara lain yang sudah berjalan adalah melalui ekonomi syariah. Selain agar tidak bergantung pada dana dari pemerintah, tujuan yang paling penting adalah memberikan manfaat dan maslahat bagi umat. Kenapa? Sebab, ekonomi di luar Islam (Sosialis dan Kapitalis) tidak pernah memberikan maslahat apa pun. Riba yang diterapkan malah kerap menimbukan krisis di mana-mana, dan ini telah diakui oleh dunia. Di antara kedua sistem di luar Islam itu, sistem Syariah inilah ibarat susu segar yang jelas berbeda dengan kotoran (Sosialis) dan darah (Kapitalis),

 

“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.”(QS. An-Nahl [16]: 66)


Selain itu, kita juga perlu mengembangkan pers syariah, misalnya TV Syariah. Dengan dibentuknya hal semacam ini, nantinya yang disiarakan sesuai kebenaran, tidak malah mengadu-domba. Senada dengan firman Allah:


“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. al-Hujurat [49]: 06)

Dari itu, kita harus menggalakkan “Gerakan Santri” dengan slogan “Saatnya Santri Mengatur Menuju Indonesia Makmur”. Sebab, kenyataan saat ini telah menuntut kaum santri bangkit untuk mansyariahkan masyarakat, baik dalam ekonomi, sosial, dan dalam bidang yang lainnya. Yang terpenting, dalam menyampaikan kebenaran, kita tidak perlu takut, sebab kalau bukan santri siapa lagi?! Abdulloh Nur/SP


* Penulis adalah Ketua Pengurus Koperasi BMT UGT Sidogiri

Sumber: Majalah Sidogiri Peduli Edisi-55 Februari 2014