Koperasi BMT Sidogiri Rahmat bagi Umat
Kehidupan zaman sekarang terkesan semakin mudah bagi mereka yang kaya, namun semakin payah bagi orang masyarakat kecil yang hidup dalam keadaan miskin. Mengapa dapat dikatakan seperti itu? Jawabannya tidak lain karena orang-orang kaya yang giat menanamkan uangnya di bank tanpa sedikitpun melirik masyarakat bawah yang secara tidak langsung membuat mereka semakin kaya. Bagaimana tidak akan terjadi seperti itu? Uang yang mereka tanamkan dalam bank akan dijadikan pinjaman bagi masyarakat kecil yang membutuhkan modal dengan bunga yang sangat tinggi. Rakyat kecil yang meminjam harus mengembalikan uang tersebut dengan bunga lima puluh persen bahkan lebih yang akan membuat uang mereka yang kaya akan bertambah banyak uangnya tanpa melakukan suatu apapun yang menguras keringat. Sedangkan para peminjam harus bekerja keras membanting tulang demi dapat melunasi hutang-hutangnya.
Fakta yang langsung dapat dilihat dengan mata dalam kehidupan sehari-hari yakni beredarnya rentenir di desa-desa. Para lintah darat tersebut dengan bibir manisnya menawarkan pinjaman kepada masyarakat awam yang tidak mengerti seluk-beluk keuangan dalam bank konvensional. Mereka dengan mudah percaya dan meminjam dengan alasan karena melunasinya dapat diangsur/dicicil. Pada kenyataannya, para warga yang sering meminjam uang pada rentenir hidupnya tidak menjadi mudah, namun sebaliknya semakin payah lantaran bunga yang ada. Rentenir tersebut tidak akan memberitahu mengenai bunga yang dikenakan, mereka langsung menyebutkan nominal uang yang harus dikembalikan para peminjam.
Misalkan ada warga yang meminjam uang sebesar Rp 100.000, maka dia harus mengembalikan uang tersebut sebesar Rp 10.000 setiap harinya selama lima belas hari. Dengan seperti itu, para peminjam tidak begitu melihat bunga yang harus mereka keluarkan begitu besar. Padahal mereka harus memberikan uang separuh dari yang mereka pinjam secara cuma-cuma kepada rentenir tersebut, karena jika ditotal maka para peminjam harus mengembalikan uang yang dipinjam sebesar Rp 100.000 menjadi Rp150.000. Hal seperti itulah yang membuat rakyat bawah akan semakin payah.
Meskipun ada warga yang mengerti bahwa praktek para rentenir sangat merugikan, mereka tetap saja meminjam kepada rentenir dengan alasan kebutuhan. Kebutuhan mereka tidak akan tercukupi jika tidak meminjam uang kepada rentenir. Bagaimana akan tercukupi jika hasil dari pekerjaan mereka juga dipakai untuk mengangsur kepada rentenir setiap harinya.
“Sebenarnya rugi juga jika meminjam uang ke rentenir, labanya terlalu besar. Tapi ya bagaimana lagi, hidup harus terus berjalan. Mau hutang kemana lagi kalau bukan ke rentenir?” kata salah satu warga yang meminjam uang kepada para lintah darat tersebut. Meminjam uang ke tetangga sangat rawan dengan hinaan dan celaan. Oleh sebab itulah mereka lebih nyaman meminjam uang ke rentenir meskipun sangat dirugikan.
Alhamdulillah, pada saat ini telah berdiri koperasi yang berbentuk BMT di Sidogiri yaitu Koperasi BMT Maslahah Pasuruan dan Koperasi BMT UGT Sidogiri Indonesia yang tidak membebankan bunga kepada para peminjam. Para peminjam hanya perlu menyerahkan surat-surat berharga atau yang lain yang dapat dijadikan jaminan dan membayar ongkos penitipan surat-surat tersebut sebagai gantinya yang tidak semahal dan begitu besar layaknya bunga para rentenir.
Namun kelemahannya, dahulu Koperasi BMT Sidogiri ini tidak begitu dikenal masyarakat desa yang terpencil. Selain itu, jika ingin meminjam mereka masih harus pergi ke BMT Sidogiri sendiri, yang tentunya masih membutuhkan ongkos transportasi.
Namun untuk saat ini tidaklah sesulit yang dibayangkan. Koperasi BMT Sidogiri telah memiliki sales luar yang berfungsi sebagaimana tugas para rentenir. Namun mereka bukanlah rentenir yang terkadang mengambil laba atau bunga sendiri di luar bank. Mereka tetap menjalankan amanah sesuai dari Koperasi BMT Sidogiri dan tidak mengambil laba sedikitpun. Mereka telah mendapat honor sendiri dari Koperasi BMT Sidogiri. Sales luar Koperasi BMT Sidogiri sendiri berasal dari para penabung yang memiliki latar belakang pendidikan di Pondok Pesantren Sidogiri. Jadi, masyarakat yang meminjam tidak lagi harus pergi ke Koperasi BMT Sidogiri sendiri, namun bisa melalui sales luarnya.
Sebagai contoh Koperasi BMT Maslahah cabang Gondangwetan yang telah memiliki beberapa sales luar, seperti di Desa Wonosari. Para warga banyak yang beralih meminjam uang ke BMT Maslahah dan meninggalkan para rentenir. Kini meminjam uang di BMT Maslahah tidaklah sulit, hanya perlu membuka rekening dengan biaya lima ribu rupiah saja. Selain itu juga bisa meminjam uang dengan nominal yang sedikit. Untuk peminjaman uang dibawah Rp 500.000 warga tidak perlu menyerahkan jaminan, namun untuk peminjaman di atas Rp 500.000 warga harus menyerahkan jaminannya.
Keistimewaan peminjaman uang di BMT Maslahah dan di BMT UGT Sidogiri ini yaitu jadwal pengangsurannya bisa dipilih sendiri oleh peminjam, misalnya setiap hari, satu minggu sekali atau satu bulan sekali. Selain itu, peminjam yang terkena musibah atau tidak dapat mengangsur sebagaimana mestinya dapat menghubungi salesnya dan memohon keringanan untuk dapat menutupi angsurannya pada angsuran yang akan datang. Berbeda dengan rentenir, jika tidak dapat mengangsur sebagaimana mestinya, maka peminjam harus tetap membayar bunganya saja pada waktu angsuran. Jadi semakin lama peminjam dalam mengembalikan uang pinjamannya maka semakin besar bunga yang ditanggung. Hal ini sangat berbeda dengan Koperasi BMT Maslahah dan Koperasi BMT UGT Sidogiri, meskipun ada kendala dalam pengangsuran, uang yang harus dikembalikan tetap sesuai dengan kesepakatan awal pinjaman.
Selain hal tersebut di atas, apabila peminjam mau melunasi pinjamannya sebelum jatuh tempo, diperbolehkan dan tidak menanggung biaya jaminan selama bulan yang akan dilunasi. Sebagai contoh apabila meminjam uang Rp 1.000.000 dengan 10 kali angsuran, dan setiap bulannya peminjam harus mengembalikan uang pinjaman sebesar Rp 100.000 dengan biaya jaminan Rp 23.000. Pada bulan kedua mengangsur, ternyata peminjam memiliki rezeki yang tidak terduga, maka peminjam akan melunasi semua hutangnya pada bulan ketiga. Untuk itu pada bulan ketiga peminjam tetap membayar sebesar Rp 123.000 dan uang pinjaman sisanya sebesar Rp 700.000 dapat langsung dilunasi tanpa ada biaya jaminan per bulannya. Berbeda dengan bank konvensional yang tidak mengizinkan pelunasan sebelum jatuh temponya agar perhitungan bunga tetap ada.
Oleh karena itulah, Koperasi BMT Maslahah dan Koperasi BMT UGT Sidogiri telah dianggap sebagai rahmat bagi masyarakat bawah pada khususnya, lantaran tidak ada beban bunga dan sesuai dengan syariat Islam dalam menerapkan semua kebijakannya. Dengan seperti ini, beban masyarakat kecil yang biasa meminjam uang pada rentenir dapat sedikit tertolong dan hidupnya dapat sedikit meningkat.
(Khumaidatul Aini/Bakhri)

