Kisah Juang Dana, Pedagang Pasar Besuki Situbondo yang Tangguh di Tengah Fluktuasi Harga
SITUBONDO – Kios buah dan umbi-umbian milik Dana Rahmat Nur Handayani di Pasar Besuki, Kabupaten Situbondo Jawa Timur, tampak tak pernah sepi. Di balik deretan ketela rambat, talas, blewah, hingga semangka yang tertata rapi, tersimpan kisah ketangguhan seorang pelaku usaha mikro yang berhasil bertahan dari ketatnya persaingan pasar sejak tahun 2017.
Sebelum mapan sebagai pedagang pasar, Dana awalnya membuka warung sembako di rumah. Namun, menjamurnya warung serupa di lingkungan tempat tinggalnya memaksa Dana memutar otak. Enggan menyerah pada keadaan, ia mengambil langkah berani untuk mengalihkan fokus usahanya ke pasar tradisional.
"Awalnya modal usaha sebagian dari dana pribadi dan sebagian lagi pinjaman. Alhamdulillah sampai sekarang usaha masih berjalan dan berkembang," ujar Dana saat ditemui di lokasi usahanya.
Strategi Menghadapi Fluktuasi Harga
Untuk menjaga kualitas dan ketersediaan barang, Dana mendatangkan langsung komoditas dagangannya dari para petani dan pemasok di wilayah Tapal Kuda, mulai dari Banyuwangi, Bondowoso, hingga lokal Situbondo. Kendati demikian, jalannya usaha tak selalu mulus. Dana mengaku tantangan terberatnya adalah fluktuasi harga dari tingkat pemasok.
Sebagai pedagang kecil, ia kerap berada di posisi dilematis saat harga kulakan melambung, sementara daya beli pasar menuntut harga tetap stabil.
"Kalau harga barang mahal, otomatis keuntungan berkurang. Kita harus mengikuti harga pasar, tidak bisa menaikkan harga sesuka hati," jelasnya.
Menghadapi situasi tersebut, Dana mengandalkan modal sosial berupa kepercayaan (trust). Hubungan baik yang dirawat bertahun-tahun dengan para pemasok membuatnya kerap mendapatkan kelonggaran berupa sistem pembayaran tempo saat modal usahanya sedang menipis.
Dalam operasional harian, kios Dana beroperasi hampir sepanjang hari. Jika pagi hingga sore hari ia menjaga kiosnya sendiri, maka pada sore hingga malam hari, dua anggota keluarganya bergantian menyambut pelanggan, yang kini tidak hanya datang dari Situbondo tetapi juga dari luar daerah.
Tumbuh Bersama Layanan Jemput Bola BMT UGT Nusantara
Kunci lain di balik bertahannya usaha Dana adalah pengelolaan keuangan yang disiplin. Ia mengungkapkan, perjalanannya selama tiga hingga empat tahun terakhir tidak lepas dari keanggotaan di KSPPS BMT UGT Nusantara.
Bagi pelaku usaha mikro seperti Dana, kehadiran lembaga keuangan syariah ini memberikan solusi nyata, khususnya melalui sistem pelayanan "jemput bola" yang efisien.
"Pelayanannya bagus, petugas datang setiap hari sehingga memudahkan untuk menabung dan membayar angsuran. Prosesnya juga mudah dan cepat," ungkap Dana.
Melalui sinergi yang sehat antara kerja keras, kepercayaan pemasok, dan dukungan akses pembiayaan yang mudah, Dana optimistis menatap masa depan. Ia berharap institusi yang mendukung usahanya tersebut dapat terus tumbuh bersama para pelaku ekosistem pasar tradisional.
"Semoga BMT UGT Nusantara semakin maju dan terus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat dan pelaku usaha kecil. Harapan saya sendiri, usaha ini bisa semakin maju, menambah jenis dagangan, dan menjaring lebih banyak pelanggan," pungkasnya.

