Filosofi Amben dan Kolong
Saat menulis biografi Kiai Hasani Nawawie (Alm.), saya mendapati filosofi amben dan kolong dari nara sumber yang saya wawancarai. Ketika saya bertanya tentang kezuhudan Kiai Hasani Nawawie, seorang nara sumber mengatakan, “Filosofi amben dan kolong dapat menjelaskan tentang kezuhudannya.”
Menurutnya, Kiai Hasani Nawawie itu merupakan fiqur ulama yang lebih mengutamakan akhirat daripada dunia. “Orang yang lebih mengutamaka akhirat daripada dunia itu sama dengan orang yang lebih mengutamakan amben daripada kolong,” demikian dia mengatakan.
Apakah amben itu? Kata “amben” berasal dari bahasa Jawa yang berarti balai-balai. Yaitu ranjang kecil yang biasanya terbuat dari kayu atau bambu. Rata-rata orang dari desa memiliki amben. Sedangkan kolong merupakan ruang atau rongga yang terdapat di bawah amben.
Ungkapan orang yang mengutamakam amben daripada kolong dalam kajian sufistik memiliki pesan yang dalam. Amben itu diibarkatkan sebagai akhirat, sedang kolong itu diibaratkan sebagai dunia. Orang yang amaliahnya semata-mata ikhlas karena Allah, berarti dia lebih mengutamakan akhirat daripada dunia.
Namun, orang yang amaliahnya semata-mata untuk mengejar kehidupan dunia, diibaratkan orang yang mengejar kolong tanpa memiliki amben. Dia senatiasa disibukkan dengan urusan dunia sampai-sampai lupa untuk mengenal dirinya. Hati dan pikirannya disibukkan dengan urusan dunia sehingga tidak ada tempat untuk urusan ibadah kepada Sang Khalik.
Bagaimana mungkin seseorang itu memiliki kolong sementara dia tidak memiliki amben? Artinya, orang yang hanya mementingkan kehidupan dunia sama halnya dengan mengejar kesia-siaan karena dia sama sekali tidak akan mendapat bagian apapun di akhirat nanti. Dengan demikian, dia termasuk orang-orang yang merugi karena hanya mendapatkan sesuatu yang semu belaka.
Karena itulah, orang-orang sufi menjadikan dunia ini hanyalah sekadar sarana untuk mencapai kehidupan akhirat yang kekal. Mereka tidak akan menjadikan dunia ini sebagai tujuan hidupnya, melainkan sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan di kampung akhirat. Dalam mengarungi dunia ini, dia hanya membutuhkan dunia seperlunya saja, tidak berlebih-lebihan.
Yang menarik, barang siapa yang memiliki amben pasti akan memiliki kolong. Artinya, orang-orang yang lebih mengutamakan akhirat daripada dunia, secara otomatis kehidupan dunianya akan tercukupi. Dia tidak harus susah payah mencari dunia, namun Allah SWT telah mencukupi kebutuhan hidupnya di dunia.
Ini mengingatkan kita akan janji Allah dalam Al-Quran surah ath-Thalaq ayat 3: “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.” Dan pada surah yang sama ayat 2 Allah SWT berfirman: “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia (Allah) akan memberinya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
Karena itu, dalam kehidupan Kiai Hasani Nawawie, beliau tidak mengalami kekurangan apapun menyangkut kebutuhan dunia. Malah, beliau sampai tidak berkenan apabila rezekinya itu terlalu berlebihan. Beliau bahkan pernah menolak ketika salah seorang santrinya bermaksud memberinya hadiah mobil baru. Padahal, mobil itu sudah diparkir di depan rumahnya.
“Dunia itu obat,” demikian beliau pernah berpesan. Karena itu, beliau tidak ingin berlebihan dengan dunia. Mobil baru bagi beliau adalah terlalu berlebihan karena dalam keseharian beliau lebih suka naik andong atau dokar saat bepergian. Beliau tidak ingin berlebihan dengan dunia, secukupnya saja.
Seperti obat, maka mengkonsumsinya seperlunya sesuai dengan dosisnya. Bila tidak sedang sakit, maka tak perlu meminum obat. Karana, berlebihan dengan obat, dapat menyebabkan over dosis yang malah dapat membahayakan keselamatan jiwa.
Mokh. Syaiful Bakhri

