5 Langkah Jadikan Pendapatan Berkah
Kemarin saya membaca status adik ipar saya di BBM yang mengungkap kegembiraannya karena mendapat bonus Rp 500.000,- dalam kurun waktu dua hari. Pada 6 Oktober 2014 dia dapat bonus Rp 375.000 dan pada 7 Oktober 2014 dia dapat bonus Rp 125.000. Maia, demikian nama adik ipar saya itu. Dia setiap hari mendapat bonus penjualan setelah bergabung dengan moment2u yaitu semacam Multi Level Marketing yang menjual berbagai produk kecantikan dan kesehatan. Dia mematok target, tahun depan bisa mendapatkan bonus jutaan setiap hari karena leader-nya di bisnis tersebut, sudah mendapat bonus jutaan rupiah setiap hari. Mulai dari 2 jutaan sampai 8 jutaan setiap harinya.
Saya mengomentasi statusnya dengan menulis: “Lumayan 2 hari Rp 500 ribu.”
“Iya. Lumayan bingiiiittss,” jawabnya.
Dia menulis kata “banget” dengan “bingiiiittss”. Maklumlah, adik ipar saya itu masih gadis sehingga bahasanya di BBM pakai bahasa gaul khas anak-anak muda zaman sekarang.
“Wah kalah nih,” kata saya. Saya mengatakan demikian karena kalau dalam waktu dua hari saja dia bisa dapat bonus Rp 500.000. Berarti dalam waktu sebulan dia bisa dapat pendapatan sekitar Rp 7 juta dari bonus saja. Masih ditambah dengan gaji rutinnya di tempat kerjanya yang mencapai Rp 4 juta per bulan. Dengan demikian dia bisa mendapat pendapatan sekitar Rp 11 juta setiap bulannya.
Saya katakan kalah karena gaji yang saya peroleh dari tempat saya bekerja tidak mencapai setengah dari gaji adik ipar saya itu.
“Secara matematis income adik ipar lebih besar dari kakak ipar.”
“Wakakaka. Tapi pengelolaannys adik ipar belum bisa secanggih kakak iparnya. Bonus masuk dan langsung sim salabim ..,.Hilang!” Tulis adik ipar saya.
Saya kira bukan adik ipar saya saja yang punya pendapatan lumayan besar namun tidak berbekas. Banyak anak-anak muda juga punya pendapatan yang lumayan besar, namun karena tidak cerdas dalam mengelola pendapatannya sehingga tidak ada yang berbekas dari pendapatan yang didapatkan. Sim salabim .. ..Hilang.
Karena itulah, kemudian saya memberi saran dengan menulis pesan, “Perlu belajar 5 hal setiap kali punya pendapatan.”
“Apakah 5 hal ituuu?” sergahnya.
Rupanya dia penasaran juga dengan 5 jurus mengelola pendapatan yang saya tawarkan. Mungkin juga dia penasaran dengan keadaan saya selama ini yang dianggapnya memiliki penghasilan yang sangat besar karena sudah punya rumah sendiri dan bisa menunaikan rukun Islam kelima bersama istri di usia yang masih muda (tahaddus bin ni’mah). Padahal, secara matermatis, pendapatan per bulan adik ipar saya itu lebih besar daripada saya. Apa rahasianya meski pendapatan tidak terlalu besar namun bisa berkah?
Maka mulailah saya menuliskan 5 langkah cerdas dalam mengelola pendapatan. Langkah-langkah ini mungkin cocok untuk mereka yang memiliki pendapatan rutin bulanan. Namun tidak menutup kemungkinan dapat diterapkan oleh mereka yang memiliki pendapatan mingguan ataupun harian.
Pertama, setiap kali memperoleh pendapatan, jangan lupa untuk mengeluarkan zakat 2,5 %. Selain zakat yang memang wajib hukumnya, juga keluarkan sodaqoh yang hukumnya sunnah. Untuk zakat ditujukan kepada 8 golongan yang sudah ditentuk dalam kitab-kitab fikih, sedang untuk sodaqoh diutamakan kepada kerabat yang membutuhkan uluran tangan. Karena sodaqoh kepada kerabat itu juga bernilai dua yaitu nilai dari sodaqoh itu sendiri dan silaturahmi. Dengan mengeluarkan zakat, berarti membersihkan dan menyuburkan pendapatan yang kita terima. Sedang dengan sodaqoh, pasti pendpatan kita akan bertambah banyak. Sejatinya tidak berkurang pendapatan yang disedekahkan itu, malah sebaliknya akan semakin bertambah.
“Oookee,” balas adik ipar saya.
Rupanya dia setuju dengan apa yang saya sampaikan. Bahwa pertama kali yang harus dilakukan setiap kali mendapatkan penghasilan adalah mengeluarkan zakat dan sodaqohnya.
Kedua, sisihkandari sebagian pendapatan untuk tabungan. Menabung itu sangat penting untuk dilakukan. Seberapapun pendapatan kita, harus ada yang dialokasikan untuk tabungan. Karena itu, setiap kali memperoleh pendapatan, jangan lupa menyisihkan untuk tabungan. Kita perlu menabung untuk mengantisipasi pengeluaran dalam jumlah besar di masa yang akan datang. Misalnya menabung untuk mempersiapkan biaya pendidikan bagi anak-anak. Meski pada saat ini anak-anak masih kecil, tidak ada salahnya untuk biaya pendidikan mereka sudah kita persiapkan dari sekarang dengan cara menabung.
“Sip…sip,” jawabnya.
Ketiga, sisihkan dari sebagian pendapatan untuk investasi. Semakin besar investasi berarti makin menambah kran pendapatan. Belajarlah dari kran air di masjid yang selalu banyak jumlahnya. Makin banyak kran pendapatan itu makin bagus. Contoh investasi yang baik adalah dengan menanam saham di BMT Maslahah ataupun BMT UGT Sidogiri. Sebenarnya istilah saham di sini kurang tepat, karena saham digunakan untuk badan usaha seperti PT. Untuk BMT yang badan hukumnya koperasi lebih tepat menyimpan yaitu simpanan khusus. Syaratnya tentu saja harus menjadi anggota. Selama ini bagi hasil baik untuk BMT Maslahah dan BMT UGT Sidogiri tergolong besar antara 18% sampai dengan 20% per tahun. Melalui investasi, sebenarnya kita memberi kesempatan kepada uang untuk bekerja kepada kita.
“Okeehh. Next?” Rupanya dia tambah penasaran.
Keempat, sisihkan buat cadangan atau pengeluaran yang tak terduga seperti untuk kesehatan, rekreasi dan lain-lain. Kata orang Jawa: Gawe jagan-jagan (untuk persiapan apabila diperlukan kelak). Dengan menyiapkan dana cadangan, maka kita akan terbebas dari hutang ketika ada kebutuhan yang mendesak karena sudah kita persiapkan dana untuk keperluan yang tak terduga.
Kelima, belanjakan pendapatan kita itu untuk hal2-hal yang memang dibutuhkan. Membeli sesuatu barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan itu dekat dengan pemborosan.
“Sip..sip,” balas adik ipar saya.
Kemudian saya tutup obrolan dengan mengatakan, “InsyAllah dengan cara demikian, nggak bakal ada masalah atau kekurangan dengan uang.”
Mokh. Syaiful Bakhri

