Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
Berikut merupakan refleksi Hari Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 yang disampaikan oleh Direktur Utama Koperasi SPS BMT UGT Sidogiri Indonesia, H. Abd. Majid Umar, pada saat memberikan Kuliah Ringkas (Kulkas) Ahad pagi 16 Agustus 2015 di hadapan pengurus, para direksi, para manager dan karyawan kantor pusat Koperasi SPS BMT UGT Sidogiri Indonesia.
Kita masih sering melihat orang mengabaikan peringatan Hari Kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Padahal, kemerdekaan yang kita nikmati sekarang ini merupakan hasil dari perjuangan para pejuang yang telah mengorbankan harta, raga dan jiwa mereka demi kemerdekaan anak-anak cucu mereka.
Perjuangan mereka dalam merebut kemerdekaan itu tidak mudah. Mereka bersusah payah berjuang, penuh dengan keprihatinan dan pengorbanan. Bahkan, dalam masa perjuangan, mereka tidak dapat beribadah dengan leluasa, tidak dapat tidur dengan nyenyak dan tidak bisa beraktifitas dengan bebas seperti yang kita rasakan pada saat ini.
Lalu setelah Indonesia merdeka, kita mengabaikan perjuangan mereka. Bahkan, untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia saja kita mengabaikannya. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang kufur terhadap nikmat kemerdekaan sehingga Allah kemudian menimpakan azab kepada kita.
Kemederkaan Indonesia itu juga berkat perjuangan para ulama. Di antaranya adalah perjuangan Kiai Sa’dullah dan Kiai Abdul Jalil dari Sidogiri. Mereka berjuang dengan susah payah demi kemerdekaan Indonesia. Kiai Abdul Jalil ditembak oleh Belanda pada saat beliau tengah berwudu. Beliau gugur sebagai syuhada demi kemerdekaan Indonesia.
Karena itu, marilah kita menyukuri nikmat kemerdekaan itu dengan bekerja dengan sebaik-baiknya sesuai dengan bidang kita masing-masing. Kita bekerja dengan sungguh-sunguh agar kita dapat member manfaat, maslahat dan berguna bagi orang lain. Jangan sampai kita menyia-nyiakan amanah yang diberikan kepada kita dengan bekerja hanya semata hanya untuk mendapatkan uang ataupun hanya untuk memuaskan nafsu syahwat kita.
Orang-orang yang bekerja hanya semata hanya untuk mendapatkan uang dan semata hanya untuk memuaskan nafsu syahwat berarti dia masih belum merdeka. Dia masih terbelunggu oleh dunia dan nafsu syahwatnya. Orang-orang yang demikian berarti telah terpedaya oleh nafsu setan.
Karena itu, marilah kita sering berdoa kepada Allah agar ditunjukkan yang benar itu tampak jelas sebagai kebenaran dan yang batil itu tampak sebagai kebatilan. Jangan sampai kita memoles kebatilan sehingga tampak seperti kebenaran. Ataupun kita menutup-nutupi kebenaran untuk kepentingan pribadi kita.
Pada saat ini kita dipercaya untuk mengelola koperasi syariah. Marilah kita jaga kepercayaan tersebut. Orang banyak yang memuji keberhasilan kita. Namun, kita harus benar-benar dapat menunjukkan bahwa kita betul-betul pantas untuk dikatakan berhasil.
Banyak pihak yang memuji beberhasilan Sidogiri dalam mengelola koperasi syariah. Orang-orang dari kementrian Koperasi dan UMKM bahkan sampai ketua OJK memuji keberhasilan koperasi syariah di Sidogiri. Sahabat saya di Bank Mandiri mengatakan bahwa pimpinan mereka sering menyebut-nyebut keberhasilan Sidogiri.
Mereka semua memuji bahwa koperasi syariah yang betul-betul baik itu ya di Sidogiri. Padahal, kita menyadari di sana-sini masih ada kelemahan. Oleh karena itu, marilah kita mensyukuri kemerdekaan Indonesia yang ke-70 ini dengan bekerja sebaik-baiknya agar kita mampu mengatasi kekurangan dan dapat mempertahakan keberhasilan dan lebih meningkatkannya lagi di masa yang akan datang.
Mokh. Syaiful Bakhri

