Meningkatkan Kualitas Puasa

Jun 18, 2016 - 00:00
 46
Meningkatkan Kualitas Puasa

Bulan Ramadhan merupakan bulan mulia yang sarat dengan pesta ibadah. Pada bulan ini terasa sekali indah dan nikmatnya beribadah kepada Allah. Berbuka puasa bersama keluarga merupakan saat-saat yang membahagiakan. Sambil menunggu tibanya adzan maghrib, sekeluarga berkumpul di meja makan merapal doa dan sanjungan kepada Allah SWT. Ketika adzan maghrib berkumandang, betapa nikmatnya menyantap makanan dan minuman setelah seharian menahan haus dan lapar.

Pada malam harinya seusai shalat Isya berjamaah melaksanakan shalat tarawih berjamaah baik di rumah, di masjid maupun di mushalla. Kenikmatan ibadah semakin terasa dengan melaksanakan mengaji bersama (tadarus). Melalui kegiatan tadarus, mereka yang lebih memahami ilmu tajwid (ilmu tentang tata cara membaca Al-Quran) dapat mengoreksi dan membetulkan bacaan Al-Quran yang tengah dibaca.

Bulan Ramadhan merupakan saat yang tepat untuk meningkatkan kualitas spiritual. Karena itu, pada bulan ini terdapat kesempatan yang besar bagi setiap keluarga untuk meningkatan kualitas puasanya. Setiap orang tua dapat memantau pelaksanaan ibadah puasa putra dan putrinya. Apakah mereka betul-betul melaksanan ibadah puasa ataukah hanya beribadah di hadapan kedua orang tuanya saja.Untuk itu, dalam kesempatan berbuka puasa bersama ataupun makan sahur, orang tua dapat menjelaskan makna dan hakikat puasa kepada putra-putrinya.

Kedua orang tua perlu mengajarkan bagaimana berpuasa yang baik dan benar sehingga puasa itu tidak hanya sekedar menahan lapar dan minum saja. Perlu diingatkan tentang pesan Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa betapa banyak orang yang berpuasa itu hanya menahan lapar dan haus saja namun mereka tidak mendapatkan pahala dari puasanya. Untuk itu, ada baiknya setiap orang tua dapat memberikan pemahaman tingkatan-tingkatan puasa kepada putra-putrinya sehingga muncul kesadaran untuk lebih meningkatkan kualitas ibadah puasanya. 

Berikut penjabaran tentang tingkatan puasa yang dapat menjadi bekal bagi setiap orang tua dalam mendidik putra dan putrinya agar dapat menjalankan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya. Pemahaman tentang tingkatan puasa ini juga penting bagi setiap orang tua agar dapat meningkatkan kualitas puasanya.

Tingkatan puasa

Menurut Al-Ghazâli dalam Mukhtashar Ihyaa Uluumuddiin  dan Al-Khaibawi dalam Durratun Nasihiin, puasa itu memiliki tiga tingkatan, yaitu puasa umum (‘umum), puasa khusus (khusus) dan puasa sangat khusus (khusus al-khusus). Puasa umum adalah menahan perut dan kemaluan dari memenuhi keinginan syahwat. Puasa khusus adalah menahan pendengaran, penglihatan, lidah, tangan, kaki dan organ tubuh lainnya dari perbuatan dosa. Tidak akan sempurna puasa khusus itu melainkan dengan melaksanakan lima perkara.

Pertama, memejamkan mata dari segala sesuatu yang dilarang oleh syariat. Kedua, menjaga lisan dari memperguncingkan orang lain (ghibah), dusta, adu domba dan sumpah palsu sebagaimana Anas r.a. telah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Lima perkara yang dapat menghapus pahala puasa yaitu: dusta, bergunjing (ghîbah), adu domba (namîmah), sumpah palsu dan pandangan dengan syahwat.”

Ketiga, menahan telinga dari mendengarkan sesuatu yang dibenci. Keempat, menahan semua anggota badan dari sesuatu yang dibenci, menahan perut dari makanan yang diragukan kehalalannya (syubhat) pada waktu berbuka. Sebab, tidak ada artinya berpuasa dari makanan yang halal kemudian berbuka dengan makanan yang haram tak ubahnya seperti orang yang membangun istana tapi menghancurkan kota. Rasulullah SAW bersabda, “Berapa banyak orang yang berpuasa melainkan hanya mendapat lapar dan dahaga saja.”

Kelima, hendaknya (orang yang berpuasa) tidak memperbanyak makan ketika berbuka sehingga perutnya penuh dengan makanan, meski makanan yang dimakan itu merupakan makanan yang halal. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada tempat yang paling dibenci oleh Allah selain dari perut yang penuh dengan makanan yang halal.”

Adapun puasa sangat khusus ialah puasanya hati dari keinginan yang rendah, puasanya pikiran dari memikirkan duniawi dan segala sesuatu selain Allah secara keseluruhan. Apabila orang yang berpuasa sangat khusus ini memikirkan sesuatu selain Allah, maka batallah puasanya. Puasa seperti ini adalah mengikuti puasanya para Nabi dan hamba-hama Allah yang terpercaya (shiddiqîn). Sejatinya, tingkat puasa ketiga ini adalah menghadap kepada Allah secara keseluruhan dan berpaling kepada selain-Nya.

Berdasarkan tingkatan-tingkatan puasa tersebut, maka pada puasa Ramadhan tahun ini kita memiliki kesempatan untuk memperbaiki tingkatan puasa. Sekiranya pada puasa Ramadhan tahun yang lalu atau tahun-tahun sebelumnya, kita hanya mampu melaksanakan puasa umum saja alias hanya menahan perut dan kemaluan dari memenuhi keinginan syahwat, maka pada puasa Ramadhan tahun ini kita upayakan meningkat menjadi puasa khusus yaitu menahan pendengaran, penglihatan, lidah, tangan, kaki dan organ tubuh lainnya dari perbuatan dosa.

Kemudian bagi mereka yang sudah mampu menjalankan puasa khusus, tentunya dapat terus meningkatkan pencapaian spiritualnya sehingga mencapai tingkatan puasa sangat khusus yaitu puasanya hati dari keinginan yang rendah, puasanya pikiran dari memikirkan duniawi dan segala sesuatu selain Allah. Dalam kehidupan zaman sekarang ini, godaan hati dan pikiran untuk condong kepada materi sungguh sangat besar sekali. Maka dari itu, siapa yang dapat melaksanakan puasa sangat khusus itu, sungguh merupakan pencapaian spiritual yang luar biasa sekali.

Apabila setiap orang tua berusaha meningkatkan kualitas puasanya dan mereka mendidik putra-putra sehingga dapat melaksanakan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya, selepas ibadah puasa nanti akan lahir anak-anak bangsa yang makin beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME. Anak-anak bangsa yang demikian itu akan menjadi aset yang berharga dalam membangun negeri ini yang saat ini sedang membutuhkan orang-orang yang terbebas dari syahwat korupsi, kolusi dan nepotisme.

Mokh. Syaiful Bakhri