Membuka Pintu Rezeki
Kita sering mendapati orang yang mengeluh karena usahanya seringkali gagal. Dia sudah berusaha sedemikian rupa, namun belum membuahkan hasil. Pintu rezekinya masih tertutup rapat. Padahal, ikhtiarnya sudah lebih dari cukup untuk bisa berhasil, namun tetap saja gatot alias gagal total. Akibatnya, karena dia sebagai kepala rumah tangga yang memiliki kewajiban untuk menafkahi anak dan istri, kegagalan usahanya itu membuat ekonomi keluarganya sempoyongan.
Hal inilah yang menimpa teman saya. Kesehariannya dia bekerja sebagai pembuat lemari. Sebenarnya, penghasilannya dari usahanya itu cukup untuk memberi makan anak dan istrinya. Namun karena pesanan pembuatan lemari itu naik-turun, saat sedang sepi dia memiliki pekerjaan sampingan sebagai makelar. Ya, makelar apa saja mulai dari makelar tanah, rumah, kendaraan dan sebagainya.
Kondisi keuangannya sekarang ini sungguh sangat memprihatinkan. Order lemarinya sedang sepi sehingga tidak ada aktivitas di lapak tempatnya membuat lemari. Begitupula dengan usaha makelarannya, kandas terus. Padahal, dia sudah berkali-kali telah mempertemukan antara penjual dan pembeli. Namun, belum ada yang gol juga.
Hutang-hutangnya yang menumpuk membaut hidupnya tidak tenang. Sering ada orang yang datang ke rumahnya untuk menagih hutang. Iya kalau yang datang menagih itu datang dengan baik-baik dan pulang dengan baik-baik. Tapi, ada orang yang datang menagih mulanya datang dengan baik-baik, namun berubah menjadi orang yang ketus, pedas dan penuh dengan sumpah serapah.
***
Sekitar 5 tahun yang lalu, teman saya itu termasuk orang yang berkecukupan. Saat orang tua angkatnya meninggal, dia menadapat warisan yang terbilang besar. Ada dua lahan sawah dan satu pekarangan peninggalan orang tua angkatnya. Namun, karena gaya hidupnya yang boros sehingga satu per satu dari harta peninggalan orang tua angkatnya itu ludes. Sekarang, tak satupun yang tersisa dari harta warisan orang tua angkatnya. Semua sudah dia jual.
Dalam kondisi keuangan yang demikian parah itu, dia mulai melakukan instropeksi. Apa yang salah dalam hidupnya sehingga keadaan terbalik menjadi jatuh miskin dan hutangnya di mana-mana? Sebagai seorang kawan, saya ingin sekali membantunya. Sungguh, saya ingin mengatakan dua hal berikut ini supaya hidupnya kembali kepada kejayaan.
Dalam pandangan saya, ada dua hal yang membuatnya terjerembab dalam masalah ekonomi yang parah. Pertama, gaya hidupnya yang boros. Dalam keadaan ekonomi yang payah itu, gaya hidupnya tidak berubah dari keadaan ketika dia masih memiliki banyak harta. Hal itu dapat saya lihat dari rokok yang dia isap. Setiap hari setidaknya dia habiskan dua bungkus rokok yang harganya mencapai Rp 32.000,.
Itu berarti, dalam waktu satu bulan ongkos untuk rokoknya saja hampir mencapai Rp 1 juta rupiah. Dalam keadaan ekonomi yang stabil, pengeluaran Rp 1 juta hanya untuk rokok itu terbilang besar. Apalagi dalam keadaan ekonomi yang payah. Dan borosnya itu bukan hanya soal rokok, soal yang lain juga boros. Kamus hidup sederhana rupanya belum ada dalam hidupnya.
Kedua, mohon maaf harus saya katakan ternyata gaya hidup sebagai orang kaya itu juga melekat pada diri istrinya. Dalam pergaulan dengan sesama, istrinya kawan saya terkenal suka menyombongkan diri. Kata-katanya selalu tinggi layaknya orang yang kaya raya meski keadaannya justru sebaliknya.
Untuk hal yang kedua tersebut, saya teringat dengan hadis Rasulullah SAW: “Barangsiapa yang tawaddu’ (rendah hati), maka Allah akan mengangkat derajatnya. Barangsiapa yang takabbur (sombong), maka Allah akan menjatuhkan derajatnya.” (Riwayat Muslim)
Saya cenderung melihat dua hal itu sebagai masalah yang serius yang harus segera dibenahi bila dia ingin mengubah nasibnya. Boros sangat dekat dengan isyraf atau berlebih-lebihan. Kita disarankan untuk tidak berlaku berlebih-lebihan dalam urusan hidup kita. Banyak sekali ayat dalam Al-Quran yang melarang kita untuk berlebih-lebihan dalam segala sesuatu. Sebaik-baik perkara, menurut Nabi Muhammad SAW, adalah yang pertengahan. Meski memiliki harta yang cukup, kita dianjurkan untuk tetap hidup sederhana.
Kemudian, masalah kedua terkait dengan kesombongan itu harus segera diberesi. Allah SWT yang telah membagi rezeki kepada hamba-hamba-Nya tidak berkenan dengan kesombongan. Kesombongan hanyalah pakaian yang pantas dikenakan oleh Yang Maha Perkasa, sedang manusia itu tidak pantas untuk sombong. Maka ketika ada hamba yang sombong, maka Allah SWT akan menjatuhkan derajatnya.
Saya kira dua hal itu yang harus dibenahi oleh kawan saya bila dia hendak membuka pintu rezekinya. Bila tidak, pintu rezekinya akan tetap tertutup rapat –rapat.Kalaupun terbuka, itu sangat kecil sekali sehingga dia akan terus-menerus dijerat dalam hutang yang berkepanjangan. Bagaimana menurut Anda?
Mokh. Syaiful Bakhri

