Koperasi Harus Besar Bersama Anggota
Semestinya koperasi itu harus besar bersama dengan anggota. Kalau ada koperasi yang bisa tumbuh besar namun tidak besar bersama anggotanya, berarti prinsip-prinsip koperasi tidak dilaksanakan dengan baik. “Kalau koperasi besar tanpa bersama angggota, maka apa bedanya dengan badan hukum lainnya,” demikian disampaikan oleh Asisten Deputi Keanggotaan Kementrian Koperasi dan UKM RI Salekan saat memberikan sambutan pada pembukaan RAT Tahun Buku 2016 KSPS BMT UGT Sidogiri Ahad (26/2/2017) di GOR Untung Surapati Pasuruan.
Untuk itu, lanjut Salekan, anggota sebagai pemilik dan pengguna jasa perlu ditingkatkan partisipasinya. Anggota tidak boleh pasif, anggota koperasi sebagai pemilik, memiliki kewajiban untuk melakukan pengawasan kepada pengurus dan pengawas dalam melaksanakan kinerjanya. “Jangan sampai anggota koperasi menyerahkan bongkoan kepada pengurus. Pengurus dan pengawas koperasi, masih perlu masukan dan saran dari anggota,” papar Salekan.
Selain itu, menurut Salekan, tugas koperasi simpan pinjam bukan hanya menghimpun sana saja dari anggota, tetapi harus juga memberdayakan ekonomi dan meningkatkan produktivitas anggota. Untuk itu, yang perlu dilakukan oleh pengurus koperasi adalah membuat data base usaha anggota.
Dengan memiliki data base usaha anggota, maka dapat dilakukan berbagai macam pembinaan dan pemberdayaan anggota untuk meningkatkan produktivitas anggota. “Kalau produktivitas anggota meningkat, akan membutuhkan liquidatas yang besar sehingga koperasi tidak akan kesulitan dalam menyalurkan likuiditasnya,” kata Salekan.
Agar produktivitas anggota meningkat, maka pengurus koperasi perlu membuat program pelatihan usaha dan pembinaan bagi anggota termasuk membantu pemasarannya. Dengan memberikan pembinaan dan pelatihan usaha sampai ke pemesarannya, maka akan mendekatkan kepercayaan anggota dengan pengurus.
Sebaliknya, kalau pengurus tidak melakukan pembinaan dan pelatihan untuk meningkatkan roduktivitas anggota, dikhawatirkan anggota akan melakukan pinjaman namun digunakan untuk kebutuhan konsumtif bukan untuk mengembangkan usahanya. “Bila pinjaman digunakan untuk hal-hal yang bersifat konsumtif, saya khawatir pembiayaan tersebut akan bermasalah,” jelasnya.
Pendekatan pembinaan dan pemberdayaan untuk meningkatan produktivitas anggota pada gilirannya akan dapat menambah kepercayaan anggota kepada koperasi itu sendiri. “Banyak kasus koperasi yang rush karena hilangnya kepercayaan anggota. Maka, pendekatan pembinaan dan pemberdayaan anggota itu penting untuk meningkatkan kepercayaan anggota terhdap koperasi,” pungkasnya.
Mokh. Syaiful Bakhri

