Berawal dari Modal Rp 1 Juta, Kini Hidupkan Asa Lewat Yayasan Annisa di Bali
DENPASAR – Menetap di Pulau Dewata selama 32 tahun tak membuat Siti Alifah sekadar menjadi saksi bisu perkembangan pariwisata Bali. Di balik hiruk-pikuk Denpasar, perempuan ini mengukir jejak kemanusiaan melalui Yayasan Annisa Rumah Peduli, sebuah wadah yang lahir dari ketidaksengajaan dan panggilan nurani.
Bermula dari kepedulian pada tetagga yang tidak bisa berbuka puasa
Siti menceritakan bahwa yayasan ini tidak dirancang di atas meja rapat yang formal. Semua bermula saat momentum bulan suci Ramadan beberapa tahun silam. Kala itu, hatinya teriris melihat sesama yang harus menahan lapar bukan karena berpuasa, melainkan karena benar-benar tidak memiliki makanan untuk berbuka puasa.
"Awalnya hanya kepedulian sederhana. Melihat orang tidak bisa berbuka saat puasa, saya berpikir minimal saya harus bisa menolong satu orang untuk makan," kenangnya.
Niat tulus itu kemudian berkembang menjadi aksi sosial yang lebih konkret. Siti mengingat betul momen krusial saat yayasannya baru berdiri. Dengan kas yang hanya menyisakan Rp 1 juta, ia dipertemukan dengan seorang pasien yang membutuhkan biaya rumah sakit mendesak.
Tanpa pikir panjang, uang satu-satunya itu dikuras habis untuk membayar biaya rumah sakit. Tak berhenti di situ, Siti juga turun tangan menjaga pasien tersebut sembari mengetuk pintu-pintu donatur untuk menutupi kekurangan biaya medis yang ada.
Titik Balik Bersama BMT UGT Nusantara
Perjalanan Siti Alifah dalam mengembangkan misi sosial sekaligus kemandirian ekonomi tak lepas dari peran BMT UGT Nusantara. Perkenalan itu terjadi pada tahun 2014, saat ia rutin mengikuti kajian keagamaan yang lokasinya berdekatan dengan kantor BMT UGT Nusantara di Bali.
Kala itu, Siti masih tinggal di sebuah kamar kos dan sedang merintis usaha kecil-kecilan. Berbekal kepercayaan terhadap sistem syariah, ia memberanikan diri mengajukan pembiayaan untuk mengembangkan unit usahanya.
"Bagi saya, BMT UGT Nusantara bukan sekadar lembaga keuangan. Selain prinsip syariahnya yang menenangkan, mereka sangat mendukung dan membantu perkembangan usaha saya. Hanya di sana saya berani mengambil pembiayaan," ujar Siti.
Ekonomi Mandiri, Yayasan Pun Berseri
Suntikan modal dan dukungan dari BMT UGT Nusantara terbukti menjadi katalisator penting. Usaha catering dan laundry yang dikelolanya kini berkembang pesat. Hasil dari bisnis inilah yang kemudian menjadi "napas" bagi Yayasan Annisa Rumah Peduli untuk terus bergerak membantu masyarakat yang membutuhkan di Bali.
Kini, dari seorang penghuni kos yang prihatin melihat sesama kelaparan, Siti Alifah telah bertransformasi menjadi sosok penggerak sosial yang mandiri secara ekonomi. Baginya, kunci keberhasilan bukan hanya soal angka di rekening, melainkan seberapa besar manfaat yang bisa dialirkan kepada mereka yang sedang kesulitan.

