Waspadai Ajaran Islam Radikal dalam Buku Agama

Mar 24, 2015 - 00:00
 57
Waspadai Ajaran Islam Radikal dalam Buku Agama

Setelah membaca beberapa halaman dari buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas XI SMA/MA/SMK Kurikulum 2013 saya terkejut. Mengapa? Karena pada halaman 170 saya mendapati ajaran atau doktrin radikal ala  kelompok Islamic State of Iraq and Siria (ISIS), secara gambalng tertulis pada buku agama tersebut.

Karena itu, apabila buku tersebut tidak ditarik peredarannya atau direvisi silabusnya dengan materi ajaran Islam yang lebih santun, sejuk dan toleran, saya khawatir dalam beberapa tahun mendatang,  bukan hanya 16 Warga Negara Indonesia yang akan menyebrang ke Siria, akan ada jumlah yang lebih banyak lagi WNI terutama dari lulusan SMA/MA/SMK yang akan bergabung dengan ISIS.

Ajaran Islam Radikal

Adanya ajaran Islam radikal dapat dilihat pada halaman 169 sampai 170 saat penulis menjelaskan tentang tokoh pembaharu Islam modern. Maka yang pertama dikemukakan adalah tokoh Muhammmad bin Abd Wahhab. Tokoh yang dinisbatkan sebagai pendiri ajaran Wahhabi itu memiliki pemikiran-pemikiran sebagai berikut sebagaimana dikutip oleh Mustahdi dan Mustakim pada kutipan a dan b pada halaman 170 berikut ini:

a. Yang boleh dan harus disembah hanyalah Allah SWT dan orang yang menyembah selain Allah SWT telah menjadi musyrik dan boleh dibunuh.  

b. Kebanyakan orang Islam bukan lagi penganut paham tauhid yang sebenarnya karena mereka meminta pertolongan bukan kepada Allah, tetapi dari syeikh atau wali atau dari kekuatan gaib. Orang Islam demikian juga telah menjadi musyrik.

Sebenarnya, kutipan bagian a apabila tidak ditambah dengan kata-kata “dan boleh dibunuh” merupakan ajaran tauhid yang lumrah diajarkan di pesantren-pesantren di Indonesia. Namun, ketika ditambah dengan kata-kata ”dan boleh dibunuh”, maka penambahan kata-kata tersebut menimbulkan masalah yang sangat besar bukan hanya ketika bersinggungan dengan orang lain yang berbeda keyakinan misalkan dengan pemeluk Kristen, Hindu, Budha maupun Konghucu, namun juga memiliki implikasi masalah yang sangat serius dengan sesama umat Islam sendiri.

Kemudian kutipan bagian b dari pemikiran Muhammmad bin Abd Wahhab yang menyebutkan “Kebanyakan orang Islam bukan lagi penganut paham tauhid yang sebenarnya karena mereka meminta pertolongan bukan kepada Allah, tetapi dari syeikh atau wali atau dari kekuatan gaib. Orang Islam demikian juga telah menjadi musyrik” juga mengajarkan faham radikalisme yang sangat berbahaya dan dapat menghancurkan sendiri-sendi kerukunan di antara sesama umat Islam.

Kutipan bagian b tersebut bila dikaitkan kutipan bagian a memiliki masalah yang serius. Siswa yang mendapat pelajaran agama Islam dengan cara seperti itu, akan berkesimpulan bahwa sebagian besar orang Islam di Indonesia adalah orang musyrik, oleh karena itu mereka itu “boleh dibunuh”. Karena, sebagian orang Islam di Indonesia terutama kalangan Nahdliyyin atau NU sangat memberikan penghormatan kepada para kiai,  masyayikh atau syekh terlebih lagi kepada para wali. Karena itu, mereka sering berziarah ke makam iai, syekh, dan wali. Penghormatan yang demikian itu, menurut ajaran Muhammmad bin Abd Wahhab dianggap sebagai hal yang musyrik.

Padahal Islam ala NU merupakan corak keberislaman yang toleran, santun dan kaya dengan kearifan tradisi budaya lokal. Orang-orang NU dikenal bisa bersanding dengan damai dengan pemeluk keyakinan yang berbeda. Salah seorang tokoh NU yaitu KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dikenal luas sebagai Bapak Toleransi dan Pluralisme yang dapat diterima dengan baik oleh umat Kristen, Hindu, Budha dan Konghucu.

Tentu saja, ajaran seperti itu lebih berbahaya lagi. Apabila hal itu diajarkan kepada siswa, maka akan mendorong siswa untuk memusuhi kebanyakan orang Islam karena dianggap syirik. Bukan hanya memusuhi, bahkan mengajarkan agar umat Islam yang dianggap syirik itu untuk dibunuh.

Dalam konteks Indonesia yang memiliki aneka ragam agama, ajaran seperti itu sangat berbahaya bagi. “Bagaimana kalau ditafsirkan mentan-mentah oleh yang ngajar dan yang baca? Bisa-bisa semua di luar agama Islam boleh dibunuh,” tulis Ustadz Salam, alumni Pondok Pesantren Sidogiri, yang menyoroti keberadaan buku tersebut. Saya sendiri pertama kali tahu akan adanya faham radikalime dalam buku tersebut melalui Ustadz Salam yang aktif dalam grup WA Alumni Sidogiri.

Setelah Ustadz Salam mengirim gambar sambul buku dan dua halaman buku yang berisi ajaran radikalisme langsung mendapat tanggapan dari Ustadz Misbahul Munir yang juga alumni Pondok Pesantren Sidogiri. “Itu merupakan doktrin asli aliran takfiri. Alumninya pasti jadi teroris, minimal mendukung geraknnya. Wajar mereka memusuhi ajaran NU, ngebom makam keramat, membongkar kuburan sahabat dan para wali di berbagai belahan dunia bahkan membunuh para peziarahnya,” tulis Ustadz Misbahul Munir.

Ajarkan Islam yang Rahmat

Isi yang terkandung dalam buku tersebut jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam yang menjadi rahmat bagi semesta alam. Terhadap sesama umat Islam sendiri yang berbeda ajaran saja “dan boleh dibunuh”, apalagi terhadap umat pemeluk agama lain?

Semestinya, untuk konteks Indonesia, yang perlu diajarkan kepada siswa itu adalah ajaran Islam yang menjadi rahmat bagi semesta alam sebagaimana yang sudah lama diajarakan oleh kiai-kiai NU di pesantren-pesantren. Ajaran seperti ini sangat sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia yang majemuk.

Karena itu, sebaiknya buku tersebut ditarik dari peredaran kemudian direvisi dengan materi ajaran-ajaran Islam yang sejalan dengan misi Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. Agar hal itu bisa diwujudkan, maka silabus PAI untuk siswa SMA/MA/SMK kelas XI harus direvisi. Untuk konteks Indonesia, apa perlunya mengajarkan pemikiran-pemikiran Islam yang radikal.

Lebih baik bila dalam silabus ditampilkan pemikiran tokoh-tokoh ulama dari Indonesia sendiri yang memiliki ajaran yang santun, toleran dan rahmat bagi semesta alam. Ajaran Kiai Hamid Pasuruan atau Kiai Abdul Adzim Sidogiri, misalnya, lebih patut untuk ditonjolkan. Mereka berdua merupakan ulama yang mengajarkan kasih sayang bukan hanya kepada sesama manusia saja. Terhadap makhluk hidup seperti pepohonan dan hewan-hewan seperti semut dan keranggang sangat mereka kasihi.

Mokh. Syaiful Bakhri