Tangkal Korupsi Melalui Infusing Pendidikan Karakter

Apr 10, 2017 - 00:00
 62
Tangkal Korupsi Melalui Infusing Pendidikan Karakter

Apa yang salah dengan pendidikan karakter di negeri ini sehingga banyak anak-anak muda terbaik bangsa harus tertunduk malu saat mengenakan seragam “TAHANAN KPK”? Perhatikanlah bagaimana perjalanan kasus korupsi yang melibatkan Nazaruddin dkk.

Sebelumnya Nazaruddin dkk merupakan kader-kader terbaik bangsa. Karir mereka cemerlang dan melambung sampai menjadi pengurus teras partai yang pernah menjadi penguasa di negeri ini. Namun karena terjerat kasus korupsi, karir politik mereka tamat.

Mengapa mereka mudah sekali tersandung kasus korupsi? “Siapa guru PKn mereka saat masih sekolah dulu?” tanya Kepala PPPPTK PKn dan IPS Drs. M. Muhadjir, MA kepada para guru saat yang mengikuti “Workshop Infusing Keterbacaan Modul Penguatan Pendidikan Karakter” yang diselenggarakan pada tanggal 3 - 5 April 2017 di Batu Malang.

Apa yang disampaikan M. Muhadjir tersebut sejatinya bukan hanya menampar guru PKn saja, pastilah guru-guru mereka malu dan sangat kecewa memiliki anak didik yang menyandang gelar koruptor.

Saat karir mereka melambung, dengan bangga seorang guru mengakuinya sebagai murid terbaiknya. Namun ketika mereka terjerat kasus korupsi, tiada seorang guru pun yang sudi mengakuinya sebagai murid.

Lalu, apa yang yang harus dilakukan oleh para guru supaya peserta didik mereka di masa yang akan datang tidak lagi tertunduk malu karena mendapat gelar sebagai seorang koruptor?

Memudarnya Karakter Integritas  

Berbagai kasus korupsi yang melanda bangsa ini mulai dari pusat dan daerah membuat negeri ini--berdasarkan laporan dari Transparency internasional--menempati rangking ke-90 negara terkorup di dunia  (beritatrans.com, Kamis 26 Januari 2017).

Lebih parah dan menyedihkan lagi, korupsi di Indonesia dilakukan secara berjamaah. “Korupsi Berjamaah 560 Annggota DPR  Berikut Pimpinan Terancam Jadi Tahanan” demikian judul headline situs beritatrans.com. Yang terbaru, korupsi berjamaah E-KTP. Situs m.inilah.com (14 Februari 2017) menulis judul “Korupsi Berjamaah Proyek E-KTP Menanti Dibongkar”.

Penyebab masih maraknya korupsi di Indonesia tak lain karena memudarnya karakter integritas pada sebagian anak-anak bangsa. Integritas menurut KBBI merupakan kesatuan yang utuh yang  memancarkan kewibawaan dan kejujuran. Orang yang berintegritas berarti memiliki pribadi yang jujur.

Integritas merupakan salah satu dari lima nilai utama penguatan pendidikan karakter yang dikembangkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Nilai yang lain yaitu karakter relijius, mandiri, nasionalis dan gotong royong.

Berdasarkan konsep PPPPTK PKn dan IPS, karakter integritas dapat terwujud melalui kejujuran, anti korupsi, tanggung jawab dan keteladanan. Karakter relijius penerapannya berupa toleransi, menghargai perbedaan agama dan kerjasama lintas agama. Perwujudan karakter mandiri antara lain kerja keras, tangguh dan tahan banting, daya juang, kreatif dan berani.

Karakter nasionalis merupakan karakter yang berhubungan dengan kebangsaan. Karakter ini dapat berupa menghargai budaya bangsa sendiri, rela berkorban,  cinta tanah air, menjaga lingkungan dan taat hukum.  

Sedangkan karakter gotong royong merupakan karakter sosial yang sejalan dengan kepribadian bangsa Indonesia yang terkenal dengan budaya gotong royongnya. Aplikasi karakter gotong royong di antaranya kerjasama, musyawarah mufakat,  tolong-menolong dan solidaritas. 

Ketika karakter integritas telah memudar pada diri seseorang, maka nilai-nilai karakter utama lainnya akan turut memudar. Oleh karena itu, lima karakter utama itu dapat merupakan satu kesatuan yang utuh.

Orang yang melakukan korupsi, selain telah kehilangan karakter integritas, maka pada saat yang bersamaan dia juga kehilangan karakter relijius, mandiri, nasionalis dan gotong royong. Orang yang dengan sengaja dan penuh kesadaran melakukan korupsi, sudah barang tentu dia tidak akan peduli dengan larangan agamanya merupakan perbuatan yang dilarang agama.

Orang yang melakukan korupsi akan kehilangan karakter mandirinya. Dia akan berusaha mewujudkan impian memiliki harta dengan mudah tanpa diiringi dengan kerja keras.

Demikian pula, orang yang melakukan korupsi pastilah dia juga kehilangan karakter nasionalismenya. Rasa cinta tanah air hanya mejadi slogan kosong, sementara dia lebih mementingkan diri sendiri daripada kepentingan bangsanya.

Pada akhirnya, orang yang melakukan korupsi sekaligus telah kehilangan karakter gotong royong. Dia pasti tidak akan peduli dengan nasib orang lain. Yang menjadi perhatian utamanya adalah bagaimana mendapatkan harta sebanyak-banyaknya meski merugikan kepentingan orang banyak.

Infusing Pendidikan Karakter

Agar peserta didik di masa yang akan datang tidak ada lagi yang tertunduk malu mengenakan seragam “TAHANAN KPK”, maka para guru dituntut untuk melakukan infusing penguatan pendidikan karakter utama.

Karanter integritas dapat ditanamkan kepada para peserta didik dari hal-hal yang sederhana dalam pembelajaran. Misalnya, pada saat ujian siswa dilatih untuk jujur dalam mengerjakan soal ujian.

Seorang guru tiada henti-hentinya dituntut untuk mengingatkan anak didiknya agar berlaku jujur dan percaya diri. Misalnya dengan menyampaikan nasihat, “Apabila kalian tidak jujur dan tidak percaya kepada diri sendiri, maka siapakah yang akan mempercayaimu sedangkan kalian sendiri sudah tidak lagi percaya terhadap diri sendiri.”

Bila karakter integritas sudah melekat pada diri peserta didik, dia tidak akan melakukan tindakan curang seperti mencontek saat menjawab soal-soal ujian. Dia akan bangga dengan hasil ujiannya sekalipun mendapat nilai pas-pasan karena nilai tersebut merupakan hasil jerih payahnya sendiri.

Peserta didik yang memiliki karakter integritas seperti itu, di masa yang akan datang tidak akan tergiur untuk melakukan kecurangan saat menjadi seorang pejabat. Dia akan lebih bangga menjadi pejabat yang jujur dan hidup sederhana daripada menjadi pejabat yang bergelimang harta namun berasal dari hasil korupsi.

Karakter relijius dapat ditanamkan dengan cara membiasakan peserta didik untuk mengamalkan ajaran agamanya. Untuk itu, saat melaksanakan kegiatann belajar-mengajar dan masuk waktu shalat, seorang guru dapat mengajak peserta didik yang beragama Islam untuk melaksanakan shalat berjamaah.

Tidak hanya sekadar mengajak, guru juga memberikan hikmah dari pelaksanaan shalat yang dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Selain itu, seorang guru juga perlu menandaskan bahwa korupsi merupakan perbuatan yang melanggar ajaran agama.

Nabi Besar Muhammad SAW pernah menegaskan betapa beratnya hukuman bagi seorang pencuri. Begitu beratnya dosa mencuri itu, sekiranya Fathiman (putrinya sendiri) mencuri, maka tidak pandang bulu beliau sendiri yang akan memotong tangannya.    

Lebih baik lagi apabila pelaksanaan shalat jamaah tersebut dipimpin oleh guru yang bersangkutan. Dengan demikian, seorang guru tidak hanya menyeru saja, sekaligus memberikan keteladanan. Sebab, keteladanan dalam tindakan itu lebih penting daripada kata-kata sebagaimana pepatah Arab: “Lisanul hal afshohu min lisanil maqol.”

Infusing karakter mandiri dapat ditanamkan kepada peserta didik melalui berbagai kegiatan pembelajaran yang menekankan pada kemandirian peserta didik dalam menyelesaikan tugasnya. Untuk itu, selain memberikan tugas kelompok, diharapkan guru juga memberikan tugas mandiri yang harus dikerjakan sendiri oleh peserta didik.

Seorang guru dapat memberikan contoh bagaimana orang-orang yang sukses itu pada masa mudanya tidak menggantungkan dirinya pada orang tua. Jika seorang guru mengajar tingkat SMA, dapat memberikan contoh bagaimana orang-orang yang sukses itu sejak usia SMA sudah hidup mandiri.

Infusing karakter gotong royong dapat dimulai dilakukan dengan memberikan penugasan kelompok. Dalam menanamkan karakter gotong royong seorang guru dapat menyampaikan filosofi sapu lidi.

Membersihkan halaman rumah bila hanya menggunakan satu lidi pasti akan membutuhkan waktu yang lama. Namun dengan menggunakan banyak lidi yang diikat menjadi satu sehingga menjadi sapu lidi, maka pekerjaan membersihkan halaman rumah akan lebih cepat selesai.

Sedangkan untuk infusing karakter nasionalis seorang guru perlu memotivasi peserta didik agar memiliki kebanggaan terhadap bangsanya sendiri. Harus ditanamkan bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang besar.

Ketika orang-orang Eropa masih menggunakan batu untuk berperang, nenek moyang bangsa Indonesia telah menggunakan batu untuk membangun peradaban. Nenek moyang bangsa Indonesia membangun candi Borobudur dan candi Perambanan yang kemegahannya masih dapat disaksikan sampai saat ini.

Penutup

Tak dapat disangkal bahwa infusing lima karakter utama itu sangat penting untuk dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini sangat penting dilakukan agar para peserta didik memiliki lima karaker utama tersebut. Bila hal ini dapat diwujudkan, maka korupsi sebagai penyakit kronis bangsa ini lambat laun akan dapat dikikis habis.

Mokh. Syaiful Bakhri

Guru Sosiologi SMAN 1 Gondangwetan