BMT UGT NUSANTARA DAN KEKUATAN SANTRI

Okt 22, 2021 - 00:00
 48
BMT UGT NUSANTARA DAN KEKUATAN SANTRI

Sebagai refleksi Hari Santri pada 22 Oktober 2021 ini, kami muat tulisan dari Achmad Zahrie Ms, Direktur Utama PT. Petani Jagung Madura Group yang sebelumnya diposting di sosial media WA Alumni PP Sidogiri.

Dahulu kala, jauh sebelum Hari Santri ditetapkan sebagai Hari Nasional, nama santri agak begitu redup. Dalam perjalananya, pasca resolusi Jihad Kiai Hasyim Asyari, setelah ribuan santri turun gunung berjihad pada momen 11 November, lambat laun nama santri tidak begitu nampak di permukaan. Seakan sedikit demi sedikit terlupakan lalu terkubur.

Sebenarnya peran sejarah santri dalam memperjuangkan NKRI tidak dimulai dari resolusi Jihad 22 Oktober. Jauh sebelum itu kaum santri sudah mengangkat senjata melawan penjajah dalam barisan pasukan pasukan Hizbullah. Namu setelah Indonesia merdeka, para santri kembali lagi mendaki gunung. Kembali ke pesantren fokus belajar mendalami ilmu agama.

Sejak itulah santri dilupakan. Ijazah lulusan pesantren tidak diakui. Ijazah pesantren hanya bisa dibuat pajangan tidak bisa untuk dibuat apa apa. Jangankan untuk melamar menjadi petugas KUA, bahkan untuk melamar menjadi petugas kebersihan toilet di sebuah toko kecil sekalipun tidak bisa.

Hal inilah yang membentuk citra pesimis masyarakat terhadap santri. Santri mulai dipandang sebelah mata, masa depan mereka tidak secerah namanya. Dari fenomena ini banyak pesantren, umumnya yang ada di perkotaan sedikit membanting setir. Selain mengadakan pendidikan Diniyah yang Ijazahnya tidak diakui, juga menyelenggarakan pendidikan umum, mulai yang program kejar paket hingga melaksanakan pendidikan formal secara murni.

Pesantren pesantren yang mempertahankan sistem salaf mulai sepi peminat. Hanya beberapa pesantren pesantren besar yang masih tetap bertahan dan masih banyak diminati.

Di saat sudut pandang masyarakat kepada kaum santri begitu optimis seperti ini, Alhamdulillah-berdiri sebuah Koperasi Simpan Pinjam Syariah yang didirikan dan dikelola oleh kaum santri. Yang kelak di kemudian hari dikenal dengan BMT UGT SIDOGIRI yang sekarang berubah naman menjadi BMT UGT NUSANTARA

Pengelolaan BMT UGT sangat kental aroma santri. Hal ini begitu nampak di mata masyarakat. Setidaknya hal ini dapat dilihat dari beberapa hal,

Pertama, Pengelola. BMT UGT dikelola oleh kaum sarungan mulai tingkat manager hingga petugas kebersihan sekalipun.

Kedua, Seragam kerja. Sarung dan Songkok menjadi ciri khas. di mana pakaian ini memang merupakan pakaian ciri khas santri di seluruh pesantren Nusantara.

Ketiga, Jam kerja. Jam kerja  BMT UGT diintruksikan dimulai dengan tradisi pesantren, diintruksikan dimulai dengan salat Duha dan Istighatsah, Istirahat Dzuhur salat berjamaah di Masjid.

Keempat, Tenaga kerja. Pada BMT UGT ini tidak ditemukan tenaga kerja wanita sama sekali di semua lini. BMT UGT hanya menerima kaum bersarung (bukan kaum bercadar) pada seluruh pos kerja, mulai dari tingkat pengurus hingga CS (Cleaning Servis). Hal ini memang menjadi pendidikan dasar santri di Pesantren. Pesantren pesantren besar di NUSANTARA semua memisah antara santri putri dan santri putra dalam proses pendidikan.

Pada perkembangannya BMT UGT SIDOGIRI sukses yang tumbuh dengan aset trilyunan rupiah dan tersebar di hampir penjuru Indonesia. hingga BMT UGT ini menempati peringkat rangking satu koperasi syariah terbesar di Indonesia.

Dengan keberhasilan inilah, setidaknya pamor santri di masyarakat mulai sedikit terangkat. Santri yang dulunya dianggap hanya bisa mengelola usaha Jual Cireng Keliling, kini dipandang mampu mengelola "Bank" dengan aset triliunan.

Dan inilah yang sebenarnya menjadi salah satu tujuan lahirnya BMT UGT, selain membumikan nilai nilai ekonomi Syariah yang ada di kitab kuning dan menyelamatkan umat dari cengkraman rentenir, juga ingin menunjukkan pada dunia bahwa santri-yang ijazahnya tidak diakui negara dan dipandang sebelah mata-juga bisa, bisa bersaing dan mengelola roda ekonomi bangsa.

Selamat Hari Santri

Sumber foto: https://muslim.okezone.com/