Tak Cukup Hanya Andalkan Sekolah
Pada umumnya orang tua akan merasa bahagia dengan kesuksesan yang berhasil diraih oleh anaknya. Apalagi, anaknya bisa bekerja di perusahaan atau lembaga yang ternama, bergaji besar melebihi orang tuanya dan mendapat berbagai fasilitas seperti perumahan, kendaraan, kesehatan, liburan, dan lainnya. Demikian juga dengan Abdul Wachid, S.Pd. I. Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SMAN 1 Gondangwetan ini, juga bahagia dengan kesuksesan yang berhasil diraih putranya.
Ali Hidayatulloh (23 tahun) putra pertamanya yang baru lulus Program D1 Sekolah Tinggi Akutansi Negara (STAN) di Bali setahun yang lalu, kini bekerja sebagai PNS di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Jakarta. “Sebagai orang tua, tentu saja saya merasa bahagia. Apalagi gaji anak saya meski baru bekerja sudah melebihi orang tuanya. Namun, masih ada kebahagiaan lainnya yang membuat saya sebagai orang tua merasa lebih berbahagia lagi,” ungkapnya saat ditemui di ruang guru SMAN 1 Gondangwetan, Sabtu (26 Maret 2016).
Bagi Pak Wachid, demikian dia kerap disapa oleh murid-muridnya, keberhasilan anaknya sebagai PNS di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Jakarta itu merupakan kebahagiaan yang dia tempatkan pada urutan ketiga. “Kebahagiaan yang pertama karena anak saya taat beribadah kepada Tuhannya. Sedangkan, kebahagiaan yang kedua karena anak saya taat terhadap orang tua. Kedua hal itulah yang membuat saya sebagai orang tua merasa sangat bahagia,” tandasnya.
Dia mempunyai alasan tersendiri mengapa lebih berbahagia dengan anak yang taat kepada Tuhan dan orang tuanya. Menurutnya, kebahagiaan terhadap kesuksesan materi itu bersifat relatif, sedangkan kebahagiaan terhadap kesuksesan moralitas itu merupakan kebahagian yang sejati. “Apakah ada orang tua yang berbahagia memiliki anak yang sukses secara materi, namun tidak berbakti kepada Tuhan dan orang tuanya? Tentu tidak ada orang tua yang berbahagia memiliki anak seperti itu,” sergahnya.
Malah, menurutnya, seorang anak yang taat berbakti kepada Tuhan dan kepada orang tuanya, berarti dia membuka jalan ke arah kesuksesan yang sejati. “Allah akan membuka pintu kesuksesan bagi hamba-hamba-Nya yang taat kepada Tuhannya dan orang tuanya. Karena itu, keberhasilan anak saya sehingga dengan mudah dapat bekerja sebagai PNS di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Jakarta, tidak dapat dilepaskan dari ketaatannya kepada Tuhan dan orang tua,” tuturnya.
Untuk itu, dia sering menasehati anak didiknya baik yang ada di SMAN 1 Gondangwetan maupun anak-anak didiknya yang belajar mengaji di rumahnya agar tidak hanya terpaku untuk mencapai kesuksesan duniawi semata tanpa memperhatikan ketaatan kepada Tuhan dan orang tuannya. “Saya sering berpesan kepada anak didik saya, kalian boleh pintar di kelas dan meraih rangking pertama di sekolah. Namun, hal itu tidak ada artinya bila kalian tidak taat kepada taat kepada Tuhan dan orang tuanya,” ujarnya.
Peran Orang Tua
Menurutnya, orang tua memiliki perang yang sangat besar sekali dalam membentuk anak yang taat kepada Tuhan dan orang tua. Kedua ketaatan itu, harus ditanamkan sejak dini oleh kedua orang tuanya. “Untuk membentuk anak yang taat, tidak cukup hanya dengan mengandalkan pendidikan di sekolah saja. Sangat dibutuhkan peran aktif dari orang tuanya untuk mendidik anaknya,” ungkapnya.
Untuk itu, sarannya, selain membekali anak dengan pendidikan formal di sekolah, seorang anak juga perlu dibekali dengan pendidikan agama secara informal baik melalui sekolah diniyah, maupun dengan memberikan pendidikan agama tambahan dengan mendatangkan guru agama atau ustadz ke rumah.
“Bisa juga dengan mengirim anak untuk belajar secara khusus kepada seorang ustadz untuk belajar agama secara sorogan (langsung berhadapan dengan soerang guru) seperti halnya di pesantren. Anak saya sendiri dua hari dalam seminggu belajar kitab kuning pada pamannya alumni Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Jawa Tengah,” tuturnya.
Selain memberikan pendidikan agama secara khusus, orang tua dituntut untuk terlibat secara intensif dalam memperkenalkan ajaran agama, melatih menjalankannya dan membimbing sampai anak mandiri dalam melaksanakan ajaran agama. Terutama terhadap pelaksanaan ajaran agama sehari-hari seperti shalat lima waktu.
“Sejak usia tiga tahun, anak sudah saya ajak untuk melaksanakan shalat berjamaah. Meski shalat subuh hanya satu rakaat, shalat maghrib hanya bdua rakat itu tidak mengapa. Yang saya tekankan supaya anak saya itu tahu akan waktu shalat. Namun, seiring dengan semakin bertambah usianya, saya didik untuk melaksanakan shalat sebagaimana mestiya,” imbuhnya.
Untuk mendidik anak yang taat, Pak Wachid berbagi peran dengan istrinya. Kebetulan sekali, Kholifah (46 tahun) istrinya, memiliki banyak waktu dan kesempatan yang besar untuk mendidik anaknya. “Istri saya itu merupakan istri ideal bagi saya karena tidak bekerja di luar seperti saya. Karena itu, istri saya memiliki banyak waktu luang untuk mencurahkan perhatian terhadap mendidik anak saya. Untuk membentuk karakter anak yang taat, istri saya memegang peran yang sangat penting,” ujarnya.
Selain memberi bekal pendidikan formal dan nonformal serta intensif dalam mendidik anak, orang tua harus senantiasa mendoakan anaknya agar menjadi anak yang taat kepada Tuhan dan orang tuanya. "Saya selalu mendoakan anak saya agar menjadi anak yang soleh. Seusai melaksanakan shalat berjamaah, saya biasanya mengusap dada anak saya seraya memanjatkan doa kepada Allah SWT dan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW agar anak saya menjadi anak yang soleh," pungkasnya.
Mokh. Syaiful Bakhri

