Suburkan Hartamu (1)
Perkembangan ekonomi rumah tangga atau keluarga itu dapat diibaratkan seperti pertumbuhan pohon. Ada keluarga yang pertumbuhan ekonominya subur seperti pohon yang tumbuh dengan suburnya. Baru beberapa tahun membangun mahligai rumah tangga, rezekinya berbuah lebat. Baik suami maupun istri, sama-sama memiliki bisnis dan pekerjaan yang bagus dan penghasilan yang besar.
Bisnis dan pekerjaan yang mereka geluti sejalan dengan tuntunan syariah. Untuk urusan keuangan dalam sekala besar, mereka menggunakan bank syariah. Sedangkan, untuk urusan keuangan sekala menengah mereka menggunakan koperasi syariah. Sebab mereka tahu, koperasi syariah seperti Koperasi BMT UGT Sidogiri Indonesia yang memiliki kantor cabang di 10 provinsi di Indonesia juga memberikan kemudahan dan layanan transanksi keuangan sebagaimana yang diberikan oleh kalangan perbankan.
Karena itu, mereka bisa memiliki rumah sendiri lengkap dengan perabotan rumah tangga dan kendaraan bermerek. Selain itu, keluarga tersebut dikarunia anak yang sehat dan montok. Pendek kata, lengkap sudah karunia yang diberikan oleh Allah SWT kepada keluarga tersebut.
Sebagai bentuk syukur atas rezeki yang Allah titipkan kepada mereka, tak lupa mereka mengeluarkan kewajibannya untuk berzakat dan bersedekah. Zakat mereka disalurkan kepada yang berhak menerimanya (mustahiq), sedangkan sedekah mereka diberikan kepada kerabat mereka yang kurang mampu dan kepada orang-orang yang membutuhkan.
Mereka mengutamakan sedekah kepada kerabat karena di situ terdapat dua hal. Selain bernilai sedekah itu sendiri, sedekah yang diberikan kepada kerabat yang kurang mampu, juga bernilai silaturahmi. Dengan begitu, akan semakin mempererat tali silaturahmi dan persaudaraan di antara para kerabat. Sebeb mereka tahu, dengan cara itulah, kesenjangan antara kerabat yang mampu dan yang kurang mampu dapat dijembatani.
Namun ada pula sebuah keluarga yang pertumbuhan ekonominya tidak subur. Seperti pohon, jangankan berbuah lebat, pertumbuhan batang, ranting dan daunnya saja melambat sehingga pohon itu merangas dan kerdil. Meski sudah beberapa tahun menikah, namun pertumbuhan ekonominya begitu-begitu saja. Padahal, suami dan istrinya sama-sama berusaha untuk mendapatkan penghasilan, namun tetap saja rezeki mereka pas-pasan. Penghasilan mereka hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga selama sebulan.
Mereka tidak dapat menyisihkan dari penghasilannya untuk menabung apalagi untuk investasi. Apabila ada anggota keluarga yang sakit, mereka mengalami kelimpungan keuangan. Maka terpaksalah mereka meminjam uang dari sana-sini untuk membayar biaya rumah sakit. Begitu juga dengan kebutuhan rekreasi bagi keluarga, sama sekali tidak terpikirkan karena mereka sama sekali tidak memiliki alokasi dana untuk kebutuhan sekunder itu. `
Karena ekonomi rumah tangga mereka yang serba pas-pasan itu, mereka masih tetap tinggal di rumah kontrakan. Impian untuk membangun dan membeli rumah sendiri terpaksa harus mereka pendam jauh-jauh.
Mokh. Syaiful Bakhri

