Optimalisasi Manfaat HP di Sekolah
Pro dan kontra membawa handphone atau HP bagi siswa di sekolah sampai saat ini masih belum usai. Sekolah yang mengizinkan siswanya membawa HP ke sekolah memberikan aturan yang ketat. Pada saat proses pembelajaran berlangsung, siswa dilarang keras menggunakan HP. Itu berarti, pada saat belajar di kelas HP harus di-silent atau dimatikan sama sekali. Seorang guru yang sedang mengajar, tidak segan-segan merampas HP siswa ketika ketahuan HP-nya berdering saat pelajaran berlangsung. Begitu pula, apabila ada anak yang mencuri-curi kesempatan bermain HP saat pelajaran, apabila ketahuan oleh seorang guru, maka sang guru biasanya akan merampas HP siswa tersebut.
Kalau HP milik siswa dirampas oleh guru, maka urusannya bisa panjang. Beragam sanksi siap menimpa siswa tersebut. Paling ringan saksinya adalah orang tuanya akan dipanggil ke sekolah. Atau siswa tersebut akan diberi peringatan keras supaya tidak menggunakan HP pada saat pelajaran berlangsung. Sanksi yang berat tak jarang diberikan. HP milik siswa bisa disita oleh sang guru dan akan diberikan nanti pada saat mereka lulus. Wow, kalau disita pada waktu kelas X berarti HP mereka disita hampir tiga tahun lamanya.
Sedangkan sekolah yang melarang siswa membawa HP ke sekolah, punya cara tersendiri sesuai dengan kebijakan sekolah masing-masing. Biasanya secara berkala sekolah akan mengadakan razia. Siswa yang kedapatan membawa HP baik yang disimpan di tas maupun di kantong baju mereka, akan mendapatkan sanksi tegas dari sekolah. Siswa tersebut dianggap melanggar aturan sekolah yang melarang siswa membawa HP ke sekolah. Sanksi yang diberikan kepada siswa tersebut bisa macam-macam sesuai dengan ketentuan sanksi dan pelanggaran yang ada di sekolah tersebut.
Sekolah yang mengizinkan siswanya membawa HP ke sekolah punya alasan beragam. Sekolah seperti ini masih melihat sisi positif dari HP sehingga mengizinkan para siswanya membawa HP ke sekolah. Sedangkan sekolah yang melarang siswanya membawa HP pada umumnya melihat sisi negatif dari HP. Misalnya, HP digunakan untuk hal-hal yang negatif. Misalnya, diisi dengan gambar-gambar ataupun film porno. Saya sendiri selaku guru Sosiologi di SMAN 1 Gondangwetan pernah merampas HP siswa yang berisi film porno.
HP untuk Mendukung Pembelajaran
Untuk menghindari sisi negatif dari HP di sekolah, alangkah baiknya bila memikirkan bagaimana mengoptimalisasikan manfaat HP di sekolah. Alasannya, teknologi itu (seperti HP dan lain sebagainya) bersifat netral tergantung dari sang penggunanya. Bila digunakan untuk hal-hal yang positif, maka kepemilikan HP akan bernilai positif. Sedangkah bila digunakan untuk hal-hal yang negatif, maka kepemilikan HP akan bernilai negatif.
Oleh karena itu, mengingat sifat netral dari teknologi seperti HP, maka yang penting untuk dipikirkan adalah bagaimana memberi penyadaran kepada para siswa untuk memanfaatkan HP untuk hal-hal yang positif terutama untuk menunjang proses belajar di sekolah. Hal ini penting untuk ditekankan sehingga para siswa memiliki kesadaran untuk menggunakan HP pada hal-hal yang positif. Kepala sekolah, guru dan BK memiliki peran yang strategis untuk menyadarkan siswa untuk memanfaatkan HP secara positif di sekolah.
Saya termasuk guru yang mengizinkan siswa memanfaatkan HP di sekolah untuk kegiatan pembelajaran. Pada saat pembelajaran berlangsung, saya sering meminta siswa untuk memanfaatkan “Mbah Google” (demikian istilah anak-anak) untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami istilah-istilah tertentu. Google dapat dimanfaatkan untuk mencari arti istilah-istilah tertentu yang kebetulan tidak terdapat dalam buku teks. Beberapa istilah kadang dimunculkan oleh penulis buku pelajaran tanpa menyebutkan arti dari istilah itu. Pada saat itulah, pentingnya menggunakan HP untuk mencari arti dari istilah yang sulit bagi siswa.
Sebenarnya saya bisa langsung menyampaikan arti dari istilah yang ditanyakan siswa. Namun sengaja saya minta mereka untuk mencari istilah tersebut di HP mereka. Dengan cara demikian, siswa dilatih untuk memanfaatkan HP dalam kegiatan pembelajaran. Tentu saja tidak sembarang HP dapat digunakan. Hanya HP pintar (smartphone) yang dapat melakukan itu. Namun saya lihat rata-rata siswa sudah memiliki smartphone. Bahkan tidak jarang HP yang dimiliki oleh siswa lebih canggih daripada HP yang dimiliki oleh gurunya.
Saya kira, HP dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran bukan hanya untuk pelajaran sosiologi saja dan bukan hanya sekedar mencari istilah-istilah sulit saja. Tentu saja lebih dari itu. Seluruh mata pelajaran yang ada di sekolah, dapat memanfaatkan HP untuk menunjang proses pembelajara. Termasuk pelajaran agama sekalipun. Karena saat ini, informasi tentang masalah keagamaan sudah tersedia secara luas di internet.
Dengan mengarahkan HP untuk mendukung proses pembelajaran di sekolah, maka sisi positif dari HP dapat lebih dioptimalisasikan. Pro dan kontra penggunaan HP di sekolah sebenarnya tidak diperlukan manakala sekolah fokus pada optimalisasi pemanfaatan HP untuk mendukung kegiatan pembelajaran. Sedang aspek negatif dari HP dapat dicegah dengan cara memberikan penyadaran kepada siswa untuk memanfaatkan aspek positif dari HP. Supaya siswa tidak melanggar ke sisi negatif pemanfaatan HP, perlu dibuat aturan yang memberi sanksi yang tegas. Insya Allah dengan cara demikian, aspek positif dari HP akan lebih muncul daripada aspek negatifnya.
Mokh. Syaiful Bakhri
Foto: Bayi pun sekarang pintar bermain smartphone.

