Menggali Makna Bekerja Sebagai Ibadah Lewat Sifat Kuat dan Amanah
MALANG – Bekerja dalam perspektif Islam bukan sekadar aktivitas ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup, melainkan sebuah ibadah yang menuntut dua sifat utama: qawiy (kuat) dan al-amin (dapat dipercaya). Tanpa kedua pilar ini, nilai spiritual dalam bekerja akan hilang.
Pesan fundamental tersebut menjadi sorotan utama dalam episode terbaru podcast inspiratif yang dihelat oleh BMT UGT Nusantara. Acara yang digelar di Villa Syariah Nusantara, Jl. Argobimo No.29 Lawang, Malang, pada Agustus 2025 lalu ini menghadirkan H.M. Tantowie Abdullah Siradj sebagai narasumber utama.
H.M. Tantowie, yang menjabat sebagai Wakil I Pengurus BMT UGT Nusantara, menegaskan bahwa ibadah tidak terbatas pada ritual seperti salat atau puasa.
“Banyak bentuk ibadah yang memerlukan biaya, seperti umrah dan haji. Maka bekerja menjadi jalan bagi seorang Muslim untuk dapat menyempurnakan ibadah-ibadah tersebut,” ungkap Tantowie dalam diskusi yang dipandu oleh M. Siddiq Rohmatullah.
Mengutip Surah Al-Qasas ayat 26, ia menjelaskan bahwa sifat qawiy atau kuat tidak hanya dimaknai secara fisik. “Kekuatan juga mencakup kekuatan berpikir, kemampuan menghadapi tekanan, menyelesaikan tanggung jawab, serta menjaga integritas,” paparnya.
Selain itu, sifat al-amin atau amanah menjadi kunci yang tidak terpisahkan. Menurutnya, di industri yang menuntut kepercayaan tinggi seperti perbankan syariah, termasuk di BMT UGT Nusantara, sifat amanah adalah harga mati.
“Pekerja yang amanah akan menenangkan dirinya sendiri sekaligus dipercaya orang lain. Ini berlaku di semua sektor. Tanpa amanah, pekerjaan akan kehilangan nilai keberkahannya,” tegas pria yang juga aktif sebagai pengajar hadits di Pondok Pesantren Sidogiri ini.
Prinsip-prinsip tersebut, lanjutnya, selaras dengan slogan BMT UGT Nusantara, yakni "Mantab" (Amanah, Tangguh, dan Bermartabat), yang merupakan cerminan dari etika kerja dalam ajaran Islam.
Untuk memperkuat argumennya, Tantowie merujuk pada hadits riwayat Imam Muslim yang menyatakan, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” Ia juga menyoroti hadits lain yang memuji orang yang bekerja keras mencari nafkah, bahkan dengan memikul kayu bakar, ketimbang meminta-minta.
“Islam tidak memberi ruang bagi seorang Muslim untuk menganggur atau menjadi beban. Justru dengan bekerja, inovasi dan kreativitas akan lahir, sehingga kita bisa memberi manfaat lebih luas,” ujarnya.
Di akhir sesi, Tantowie mengingatkan pentingnya meluruskan niat dalam bekerja. Mengutip dawuh ulama besar, KH. Hasani Nawawi dari Sidogiri, ia menganalogikan harta laksana obat.
“Mengumpulkan harta itu boleh, asal niatnya sebagai sarana ibadah. Harta itu ibarat obat, disimpan untuk kebutuhan, dan digunakan untuk menolong sesama,” pungkasnya.

