Mengenang Patriotisme KH. Abd. Djalil bin Fadlil
Jasa para ulama terhadap tegaknya NKRI tidak dapat pungkiri. Mereka mengorbankan jiwa, raga dan harta agar Indonesia dapat meraih kemerdekaan dari cengkraman penjajah Belanda maupun Jepang. Bahkan, saat Indonesia sudah merdeka dan kemerdekaan itu mau direbut dari genggaman, para ulama memiliki andil yang sangat besar sehingga Indonesia tetap merdeka sampai hari ini.
Lahirnya Resolusi Jihad yang diserukan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim As’ary merupakan bukti otentik peran ulama dalam mempertahakankan kemerdekaan NKIR. Api revolusi resolusi Jihad dari tokoh pendiri NU tersebut menyulut peristiwa 10 November di Surabaya. Begitupula, ketika PKI berkhianat dan hendak merobohkan NKRI, para ulama berada pada barisan terdepan membela NKRI. Para ulama bersatu padu menyelamatkan bangsa dan negara dari pengkhiatan PKI terhadap NKRI.
Setelah tugas suci membela negara dari penjajahan dan pengkhinatan PKI usai. Para ulama kembali ke pesantren. Mereka tidak meminta apapun dari pemerintah atas jasa-jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan dan menyelamatkan NKRI dari pengkhianatan PKI. Berjuang membela negara bagi para ulama merupakan kewajiban yang iklah dilaksanakan sebagai perwujudan bakti mereka terhadap Ibu Pertiwi. Apa yang mereka lakukan semata-mata ikhlas berjuang di jalan Allah tanpa pamrih apapun.
Bagi para ulama membela bangsa (patriotisme) dan membela agama (jihad fi sabilillah) merupakan satu kesatuan utuh. Dalam hati dan sanubari para ulama terpatri dengan tegas bahwa cinta tanah air (nasionalisme) merupakan sebagian dari keimanan. Maka dari itu, orang-orang yang beriwan, wajiblah berjibaku membela bangsa dan negara pada saat ibu pertiwi memanggil.
Di antara para ulama yang gugur dalam membela NKRI dari bangsa penjajah adalah KH. Djalil bin Fadhil. Salah seorang pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri ini gugur sebagai syuhada saat Belanda melakukan operasi militer di Sidogiri. Beliau menghembuskan nafas terakhir setelah tubuhnya ditembus timas panas Belanda.
Petikan puisi yang ditulis oleh Haidar Hafeez dengan judul “KYAI ABDUL DJALIL SIDOGIRI” berikut ini melukiskan bagaimana perjuangan dan pengorbanan KH. Abdul Djalil bin Fadhil ini.
KYAI ABDUL DJALIL SIDOGIRI
Oleh Haidar Hafeez
Membaca kisahmu hati tersayat
Aku terpeanjat
Seketika aku munajat
Pada zat pencipta kiamat
Bahwa subuh berdarah adalah sejarah
.
Pagi itu tidak seperti pagi biasa
Sidogiri menangis
Kiyai Abdul Jalil sang penyangat agama
Wafat sebagai suhadaillah
Tertembus pelor penjajah Belanda yang terkutuk
.
Kiyai Abdul Jalil Sidogiri
Saat kau panjatkan doa kunut
Tiba-tiba sejadah subuhmu bersimbah darah
Sedikitpun kau tidak merasakan punggung dan dadamu koyak
Begitu nikmatnya kau mengarungi lautan rindu tuhan Allah subhanahu wa ta-ala
Bagimu shalat adalah menjumpai-Nya
Tidak ada kenikmatan kecuali shalat menghamba pada-Nya
.
Tiga perempat abad silam
Sungai pondok Sidogiri
Merah darah pendiri republik Indonesia
Airnya seketika mengalir wangi melati
Putih tulus niat romo kiyai Abdul Jalil Sidogiri
.
"La haula wala kuwata illa billahil aliyil azim"
Tidak ada kekuatan mengibarkan merah putih
Kecuali kekuatan-Mu ya tuhan mengobarkan iman
Bahwa "hubbul waton minal iman"
Mokh. Syaiful Bakhri

