Melesat Berkat Peduli Umat (2)

Feb 7, 2016 - 00:00
 156
Melesat Berkat Peduli Umat (2)

Yang membedakan antara BMT MMU dan BMT UGT adalah daerah operasionalnya. BMT MMU hingga kini memiliki 90 kantor layanan di seantero Jawa Timur. Sementara BMT UGT Sidogiri mengoperasikan 276 kantor layanan se-Indonesia. Awalnya, BMT UGT memiliki wilayah Ja-Tim, tetapi mulai 17 Februari 2015 sudah nasional.

Penamaan BMT bersumber dari akar sejarah Ponpes Sidogiri. BMT MMU awalnya beranggotakan guru-guru Madrasah Miftahul Umum, Ponpes Sidogiri. Sementara BMT UGT bersumber dari nama Urusan Guru Tugas yang menyarankan pendiriannya.

Masa-masa awal perintisan BMT UGT sangat sederhana, hanya berkantor di salah satu ruko berukuran 3x4 m2 di dekat Pasar Wonorejo, Pasuruan. Belakangan, konsep itu pula yang mempercepat gerak BMT MMU dan BMT UGT menangkap pasar. "Kantor-kantor kami hingga sekarang letaknya tak jauh dari pasar. Di MMU, sama dengan koperasi simpan-pinjam lain, kami turun, cari nasabah. Kami nagih, Ya begitu," kata Mahmud.

Mahmud meyakini, kesuksesan BMT UGT saat ini bersumber dari anugerah Allah. Pasalnya, awalnya para pengurus Koperasi BMT tidak paham sama sekali cara memutar dana anggotanya. Mahmud pun blak-blakan mengaku kelimpungan di saat tiga bulan setelah berdiri, BMT MMU kebanjiran dana anggota hingga Rp 300 juta pada 1997. Padahal, dalam bayangan pengurus kala itu, paling banter Rp 200 juta terkumpul dua tahun setelah berdiri.

Dengan modal nekat, pengurus Koperasi BMT MMU pun pergi ke Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil di Islamic Center Surabaya. "Kami diberi pandangan-pandangan. Terus kami pulang dan menjalankan saran itu. Kami turun ke Pasar Wonorejo untuk memutar dana itu. Dan, ternyata banyak orang butuh. Malah dana kurang, hahaha..." kata Mahmud seraya tertawa.

Berkat petunjuk itu, BMT Sidogiri akhirnya bisa meraih laba hingga 100% pada akhir tahun pertama; 50%-nya dibagikan kepada anggota melalui sisa hasil usaha (SHU). "Kalau pengurus, ya sudahlah... puasa dulu. Pengurus sampai tiga tahun nggak dapat apa-apa tiap bulannya. Dapatnya hanya pada akhir tahun," ujar Mahmud.

Rincian pembagian laba BMT, menurut Mahmud, 50% untuk SHU, 20% untuk dana cadangan, 5% untuk pengurus dan pengawas, 5% untuk manajer dan karyawan, 5% untuk dana pendidikan, dan selebihnya sebesar 15% untuk dana sosial. Meski begitu, diakui Mahmud, BMT selalu kebanjiran simpanan anggotanya. "Kalau koperasi-koperasi lain sulit mencari dana, kami malah selalu kebanjiran dana. Tahun 2001 simpanan khususnya baru Rp 231 miliar," kata Mahmud seraya menunjukkan laporan keuangan BMT Sidogiri kepada SWA.

Dalam skema simpanan BMT Sidogiri, simpanan pokok adalah simpanan yang disetor saat awal seseorang menjadi anggota, yakni sebesar Rp 1 juta per anggota. Sementara simpanan khusus awalnya tidak dibatasi. Nah, untuk perhitungan pembagian SHU, salah satunya berdasarkan nilai simpanan khususnya. Karena skema itulah, sempat ada anggota koperasi yang menyimpan hingga Rp 2 miliar dengan harapan memperoleh SHU yang besar. Kondisi itu akhirnya membuat para pengurus memutuskan simpanan khusus dibatasi, hanya Rp 500 juta per orang. "Kalau tidak dibatasi, kami nanti bisa dikuasai perorangan. Menjadi tempat orang-orang berduit, yang bisa-bisa menguasai koperasi," ungkap Mahmud.

Kinerja BMT yang terus membaik membuat para anggotanya terus bertambah. Otomatis, nilai tabungannya pun membengkak. Pada 2001, nilai tabungan umum Rp 446 juta dan simpanan berjangka Rp 6,1 juta. Pada 2014, nilai tabungan umum mencapai Rp 716 miliar dan tabungan berjangka Rp 210 miliar. Asetnya pun terus naik hingga mencapai Rp 1,5 triliun pada akhir 2014 dan omsetnya tembus Rp 16 triliun lebih. "Zakat kami (2,5%), sebelum SHU dan pajak, pada 2014 mencapai Rp 7 miliar. Disamping itu, kami punya dana sosial (CSR) pada 2014 mencapai Rp 8,9 miliar," ujar Mahmud.

Meski demikian, Mahmud mengakui, hingga kini BMT Sidogiri dibantu permodalan oleh sembilan bank syariah, di antaranya BRI Syariah, BNI Syariah, Syariah Mandiri, Bukopin Syariah, Jatim Syariah, DKI Syariah, Panin Syariah, BCA Syariah. "Itu kami gunakan dalam masa-masa yang kritis, yakni bulan Sya'ban dan Puasa. Saat itu banyak penarikan tabungan. Dan, kami perlu dibantu oleh bank," kata Mahmud mengutarakan alasannya. Sinergi itu juga membuat sistem teknologi informasi BMT Sidogiri meningkat. Salah satunya, bekerja sama dengan BRI Syariah dalam penggunaan jaringan ATM. Selain itu, melalui kartu debit BMT Sidogiri, anggotanya bisa menarik dana di jaringan ATM bersama dan ATM Prima. "Jadi, nabungnya di BMT, ngambil uangnya di ATM BRI, hehehe... Kalau ke BRI tidak kena charge. Kalau ATM Bersama dan Prima, kami kena charge standar," kata dia.

Dengan dana kelolaan sedemikian besar, BMT Sidogiri tentu saja memikat bank-bank syariah nasional. "Bank Syariah Mandiri membantu cash management, memfasilitasi online kami," ungkap Mahmud. Namun, pengurus BMT Sidogiri sangat membatasi peminjaman modal dari perbankan syariah. Alasannya, demi kehati-hatian. Selain itu, sebenarnya, BMT Sidogiri tak memerlukan bantuan bank untuk menambah modal. Pasalnya, begitu periode penambahan modal dibuka yang hanya berlangsung tiga minggu dalam setahun, anggotanya berbondong-bondong menyetor tabungan. "Dua tahun lalu pernah kami memasang target penambahan Rp 50 miliar. Ternyata yang masuk Rp 180 miliar. Kaget kami. Ini gimana nanti mengembangkannya? Makanya, pada RAT 2014 kami batasi. Anggota baru, tabungannya maksimal Rp 2 juta. Minimalnya Rp 1,25 juta. Yang lama, silakan," ujarnya.

BMT Sidogiri kini memiliki sembilan produk simpanan koperasi, yakni Tabungan Umum Syariah, Tabungan Haji Al-Haromain, Tabungan Umrah Al-Hasanah, Tabungan Idul Fitri, Tabungan Lembaga Peduli Siswa, Tabungan Qurban, Tabungan Tarbiyah, Tabungan Mudharabah Berjangka dan Tabungan MDA Berjangka Plus. Sementara produk pembiayaan untuk anggotanya mencakup UGT Gadai Emas Syariah, UGT Modal Usaha Barakah, UGT Multiguna Tanpa Agunan, UGT Kendaraan Bermotor Barokah, UGT Pembelian Barang Elektronik, dan UGT Pembiayaan Kafalah Haji. Selain itu, terdapat pula sejumlah pelayanan jasa, yaitu jasa pelayanan transfer, layanan umrah dan haji, serta layanan payment point online banking.

Dengan pengelolaan demikian, BMT Sidogiri kini berkembang menjadi 10 badan hukum berbeda. "Kami sudah punya 10 badan hukum. Ada koperasi sekunder (Inkopsyah dan Puskopsyah), lembaga keuangan bank (PT BPRS UMMU), properti (PT UGT Sinergi Barokah), teknologi satelit (PT U-SAT), pembuatan software (PT USID), kuliner (PT Rijan Damai Selaras), asuransi mikro syariah (PT ASYKI), apartemen mahasiswa (PT Sinwa Barokah Abadi) dan  rumah sakit (PT Soyugiri Primadika)," Mahmud menerangkan.

Menurut Mahmud, berbagai pengembangan itu tak lepas dari misi sosial koperasi : membantu kaum tak punya. Itu sebabnya, BMT Sidogiri membangun rumah sakit dan memasuki bisnis asuransi mikro syariah. Pembagian keuntungannya pun terlihat mengedepankan dana sosial hingga 15% dari keuntungan. "Padahal, untuk pengurus cuma 5%. Manajer dan karyawan 5%. Artinya, kami mendahulukan kepentingan sosial. Kalau di luar, dana sosial 5%, pengurus 10%. Manajer dan karyawan 10%," katanya.

Dengan komposisi seperti itu, pengurus seperti Mahmud memang harus legowo. Namun, dia ikhlas. Karena, kemajuan BMT Sidogiri turut membantu orang tak punya serta meningkatkan harkat dan martabat umat Islam di Indonesia. "Kalau mau zona nyaman, ya sudah bergerak di simpan-pinjam saja. Tetapi kami tidak mau itu, kami ingin membantu siapa pun yang membutuhkan. Kami berpikir bisnis itu tidak bisnis an sich. Tetapi berpikir akhirat. Intinya, kami ingin menjadi khorinas manhuwa ya faunnas. Sebaik-baik manusia itu adalah orang yang paling banyak memberi manfaat untuk orang lain," Mahmud menegaskan.

PILAR SUKSES BMT SIDOGIRI

1. Memulai dari yang kecil

2. Terus belajar sambil berjalan

3. Meningkatkan kualitas manajemen

4. Menerapkan manajemen keuangan dengan hati-hati

5. Mengambil bantuan permodalan dari bank syariah secukupnya

6. Mengevaluasi model bisnisnya secara berkala

7. Menjaga Independensi koperasi dari penabung/pemodal besar.

8. Bekerja sama dengan perbankan syariah untuk meningkatkan sistem teknologi informasinya.

9. Mendiversifikasi bisnisnya ke berbagai bidang lain yang sesuai dengan syariah

10. Terus berinovasi mengembangkan produk sesuai dengan kebutuhan anggotanya

 

PRESTASI BMT SIDOGIRI DI ANTARANYA :

2013

Peringkat I, The Best Islamic Microfinance, dalam Islamic Finance Award & Cup 2013 di Jakarta, dari Karim Business Consulting

2013

Dinobatkan oleh Gubernur Jawa Timur sebagai KSP/USP dan KJKS/UJKS Berkinerja Baik untuk Kategori : Pengelolaan Koperasi Modern Skala Provinsi

2014

The Best Islamic Micro Finance 2014 dengan aset lebih dari Rp 50 miliar dari Karim Consulting Indonesia

KINERJA KEUANGAN BMT UGT SIDOGIRI 4 TAHUN TERAKHIR

No.

 

2011

2012

2013

2014

1.

Jumlah Anggota

3.689

5.552

8.871

11.601

2.

Simpanan Anggota

Rp 47,37 miliar

Rp 85,76 miliar

Rp 164,43 miliar

Rp 245,14 miliar

3.

Tabungan Anggota

Rp 265,22 miliar

Rp 450.19 miliar

Rp 664,47 miliar

Rp 927,2 miliar

4.

Pendapatan kas/omset

Rp 1,82 triliun

Rp 1,13 triliun

Rp 6,38 triliun

Rp 16,05 triliun

5.

Aset

Rp 406,2 miliar

Rp 662,77 miliar

Rp 1,07 triliun

Rp 1,5 triliun

6.

Zakat

Rp 1,79 miliar

Rp 2,73 miliar

Rp 5,2 miliar

Rp 7,014 miliar

7.

Dana Sosial/CSR

Rp 2,7 miliar

Rp 4,9 miliar

Rp 8,93 miliar

Rp 9 miliar

8.

Karyawan

632

911

1.130

1.341

 

Sumber: Majalah SWA Edisi 01/2016

Penulis: Eddy Dwinanto Iskandar dan Suhariyanto

Riset: Sarah Ratna Herni

Foto : Karyawan KSPS BMT UGT Sidogiri melayani pendaftaran anggota baru yang dibuka mulai 1 Februari sampai 15 Februari 2016.

 

Editor: Mokh. Syaiful Bakhri