Koperasi Pondok Pesantren Sidogiri (2)

Apr 28, 2019 - 00:00
 174
Koperasi Pondok Pesantren Sidogiri (2)

Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Sidogiri merupakan badan usaha milik Pondok Pesantren Sidogiri yang berdiri sejak 1961. Sejarah berdirinya berawal dari ikhtiar dari KA. Sa’doellah Nawawie selaku Penanggung Jawab dan Ketua Pengurus Pondok Pesantren Sidogiri. Beliau merintis berdirinya koperasi sebagai wadah bagi santri untuk belajar kemandirian, wirausaha dan pengabdian.

Kegiatan usaha pada mulanya adalah membuka kedai makanan dan minuman yang untuk memenuhi kebutuhan santri. Berkat ketelatenan dan kerja keras pengurus Kopontren Sidogiri, keuntungan dari membuka kedai makanan dan minuman kemudian dikembangkan untuk usaha lain yaitu dengan membuka toko kelontong dan toko kitab dan peralatan belajar. Semula hanya terbatas bagi lingkungan pesantren, namun kemudian berkembang ke sejumlah pasar di Pasuruan.

Sekalipun kegiatan usaha Kopontren Sidogiri sudah dimulai sejak 1961, namun baru mengajukan permohonan Badan Hukum Koperasi pada April 1997. Pada 15 Juli 1997 terbitlah Akta Badan Hukum Kopontren Sidogiri nomor: 441/BH/KWK.13/VII/97. Seiring dengan terbit Badan Hukumnya, Kopontren Sidogiri terus berbenah menata manajemen dan kinerja usahanya. Sejak saat itulah, Kopontren Sidogiri terus berkembang pesat sehingga Pondok Pesantren Sidogiri mendapat predikat sebagai “Pesantren Wirausaha Pertama” (Republika, 1 November 2002).

Kini Kopontren Sidogiri telah berkembang pesat dan mendapat pengakuan serta menempati urutan ke 93 Koperasi Besar Indonesia versi Majalah Peluang. Sampai dengan Desember 2014, Kopontren Sidogiri telah memiliki 75 cabang di beberapa beberapa kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Timur seperti Pasuruan, Probolinggo, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi, Jember, Malang, Lamongan, Bangkalan, Pamekasan, Sampang dan Sumenep. Unit usaha Kopontren Sidogiri cukup beragam mulai dari kantin, toko buku, toko alat-alat rumah tangga, kosmetik, mini market, percetakan dan toko pulsa serta handphone. Usaha lainnya yang makin berkembang adalah produksi dan pemasaran Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) merek “Santri”.

Kopontren Sidogiri akan terus berupaya melakukan inovasi untuk menjadi yang terdepan dalam bisnis ritel. Karena itu berbagai pembenahan dilakukan baik dari aspek sumber daya manusia, infrastruktur dan  merek dagang (branding). Kopontren Sidogiri memperkenalkan merek (brand) “BASMALAH” pada setiap unit toko Kopontren Sidogiri. Kini di setiap toko Kopontren Sidogiri tertera dengan jelas tulisan  “TOKO BASMALAH” sebagai “Tempat Belanja yang Baik”. Salah satu produk Kopontren yang  inovasitif yaitu kartu e-maal.  Melalui uang elektronik ini, masyarakat dapat belanja di Toko Basmalah tanpa perlu membawa uang tunai.

Keberadaan Kopontren Sidogiri memiliki manfaat yang besar bagi pesantren, santri dan masyarakat. Bagi Pondok Pesantren Sidogiri, keberadaan Kopontren Sidogiri sangat menunjang upaya kemandirian pesantren karena sebagian pendapatan Pondok Pesantren Sidogiri berasal  dari Selisih Hasil Usaha (SHU)  Kopontren Sidogiri. Bagi santri keberadaan Kopontren Sidogiri selain menyediakan kebutuhan sehari-hari, juga sebagai tempat belajar kemandirian, kewirausahaan dan pengabdian. Sedang bagi masyarakat umum, Kopontren Sidogiri ikut meramaikan pasar-pasar tradisional dengan menyediakan kebutuhan sehari-hari dengan harga yang terjangkau.

Untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat Kopontren Sidogiri mengembangkan konsep “menggendong dan menggandeng”. Menggendong merupakan bahasa Jawa yang berarti “mengangkat yang masih belum mampu”. Maksudnya, Kopontren Sidogiri menggendong toko-toko kecil untuk belanja atau kulakan dengan harga yang kompetitif dan bersaing. Sedang, “menggandeng” merupakan bahasa Jawa yang berarti “menjalin kerja sama”. Maksudnya, Kopontren Sidogiri menggandeng toko-toko besar di sekitarnya untuk belanja atau kulakan bersama-sama kepada pemasok-pemasok barang-barang tingkat regional dan nasional.

Modal awal Kopontren Sidogiri pada mulanya dihimpun dari simpanan  para santri. Setiap akhir tahun dihitung hasil usahanya dan labanya dibagikan kepada para santri yang menjadi anggota. Namun setelah berjalan beberapa tahun, pengurus Kopontren Sidogiri kesulitan dalam membagikan labanya (SHU) kepada para santri. Kesulitan itu disebabkan karena banyak santri yang menjadi anggota Kopontren Sidogiri boyong (kembali ke kampung halamannya) dan adanya tambahan santri baru yang masuk di pertengahan tahun. Akhirnya, pengurus Kopontren Sidogiri mengubah sistem pembagian SHU dengan cara yang lebih bermanfaat baik kepada santri secara perorangan maupun santri secara keseluruhan. (Mokh. Syaiful Bakhri)

Sumber gambar:https://www.imgrumweb.com/hashtag/Emaal