KEMANDIRIAN PESANTREN ALA SIDOGIRI (3)

Nov 14, 2021 - 00:00
 106
KEMANDIRIAN PESANTREN ALA SIDOGIRI (3)

Berawal dari Berdirinya Kopontren Sidogiri

Pondok Pesantren Sidogiri merupakan salah satu pesantren tertua di Jawa Timur yang telah berusia ratusan tahun. Berdasarkan manuskrip yang ditulis KA. Sadoellah Nawawie pada tahun 1971, disebutkan bahwa Ponpes Sidogiri berdiri sejak 1745 masehi. Untuk  melatih kemandiriain para santri dalam menangani bidang perekonomian sejak 1961 KA. Sadoellah Nawawie (Penanggung Jawab dan Ketua Pengurus kala itu), merintis berdirinya Kopontren Sidogiri sebagai wadah untuk belajar kemandirian, wirausaha (enterpreneurship) dan pengabdian bagi para santri. Kegiatan usaha pertamanya adalah membuka kedai dan warung kelontong di dalam lingkungan pesantren yang menyediakan kebutuhan sehari-hari  para santri (Bakhri, 2011: 7).

Sejak berdiri sampai sekarang Kopontren Sidogiri terus berkembang dengan pesatnya. Bahkan pernah mendapat predikat sebagai “Pesantren Wirausaha Pertama” (Republika, 1 November 2002). Meski Kopontren Sidogiri berdiri sejak 1961, tapi berbadan hukumnya mulai 15 Juli 1997 dengan nomor 441/BH/KWK.13/VII/1997.

Kopontren Sidogiri sukses mengembangkan jaringan toko ritel Basmalah sebagai “Tempat Belanja yang Baik” dan telah memiliki 236 cabang di Jawa Timur.[1] Bukan hanya itu saja, melalui berbagai anak perusahaannya, Kopontren Sidogiri terus mengembangkan usahanya seperti percetakan (Giri Grafika), mendirikan pabrik Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) merek “Santri” sampai apotik (Giri Sehat). Kini, Kopontren Sidogiri juga merambah bisnis financial technology (fintech) dengan mendirikan PT. Fintech Sidogiri Utama yang mengembangkan e-maal sebagai alat pembayaran digital bagi santri, alumni dan masyarakat  (Bakhri, Op.Cit., 51).

Keberadaan Kopontren Sidogiri itulah yang kemudian hari menjadi cikal bakal kemandirian finansial Pondok Pesantren Sidogiri. Setelah  berhasil mengembangkan Kopontren Sidogiri, pada pertengahan 1997 para pengurusnya dan beberapa orang guru Madrasah Miftahul Ulum (MMU) Pondok Pesantren Sidogiri memprakarsai berdirinya koperasi serba usaha yang fokus usahanya adalah Simpan Pinjam Pola Syariah (KSPPS) dengan nama Koperasi Baitul Mal wa Tamwil Maslahah Mursalal lil Ummah disingkat Koperasi BMT MMU (Bakhri, 2015: 8).

Mereka mendirikan Koperasi BMT MMU karena resah dengan kondisi masyarakat yang terjerat dengan praktik ekonomi ribawi dalam bentuk rentener yang  sudah merambah sampai ke desa-desa di sekitar Sidogiri. Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri kala itu (KH. Abdulloh Karim Thoyyib), khawatir apabila para santri membeli makanan pada warung nasi yang meminjam dana dari para renternir, maka ilmu yang diperolehnya tidak barokah dan bermanfaat.

Para pengelolanya—khususnya guru-guru MMU yang biasanya berkutat dengan kitab kuning—merasa seakan-akan memasuki “dunia lain” ketika  menangani bisnis syariah, tapi mereka berhasil mengembangkan Koperasi BMT MMU (Republika, 17  Maret 2004). Sejak 25 September 2009, ruang lingkup Koperasi BMT MMU Sidogiri telah diubah dari tingkat kabupaten menjadi lingkup provinsi Jawa Timur.  Sejak November 2013, Koperasi BMT MMU Sidogiri berganti nama menjadi Koperasi BMT Maslahah. Unit pelayanannya, sampai dengan Desember 2020 telah berkembang menjadi 101 unit  yang tersebar di berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur.[2]

Sejak didirikan, Koperasi BMT Maslahah  menunjukkan kemajuan baik dari segi aset, penerimaan kas  dan laba bersihnya (SHU). Kinerja Koperasi BMT Maslahah pada tahun buku 2020 mengalami pertumbuhan yang signifikan, baik dari segi aset, volume usaha, pembiayaan dan simpanan angggota. Per November 2020,  asetnya mencapai Rp 737 miliar,  volume usaha mencapai Rp 2,03 triliun, pembiayaan mencapai Rp 373 miliar,  dan simpanan anggota mencapai RP 100,2 miliar, sedangkan simpanan anggota tabungan sukarela mencapai Rp 602 miliar (Muchtar, 2020: 83)

Setelah sukses mengembangkan Koperasi BMT Maslahah, para pengurus Koperasi BMT Maslahah  memprakarsai berdirinya Koperasi Usaha Gabungan Terpadu (UGT) Sidogiri. Pada 6 Juni 2000 mereka mendirikan Koperasi UGT Sidogiri yang sejak November 2020 berganti nama menjadi Koperasi BMT UGT Nusantara. Koperasi BMT UGT Nusantara yang mereka dirikan, aset, omzet dan laba bersihnya terus berkembang dan makin mendapat kepercayaan dari masyarakat. Sejak Desember 2020, Koperasi BMT UGT Nusantara telah memilik 290 unit pelayanan yang tersebar di 10 provinsi seperti Jawa Timur, Jawa Barat, Jakarta Utara dan luar Jawa.[3]

Tiga koperasi syariah yang ada di Sidogiri tersebut sukses masuk dalam daftar 100 Koperasi Besar Indonesia  veri Majalah Peluang  dengan urutan Kopontren Sidogiri urutan ke-92, Koperasi BMT Maslahah urutan ke-14 dan Koperasi BMT UGT Nusantara urutan ke-3 (Muchtar, 2015: 51). Itu berarti, dalam satu desa terdapat tiga Koperasi Besar Indonesia (Bakhri, 2018: 8).

 

[1] Wawancara melalui WA dengan Shofi, salah seorang staff Pengurus Kopontren Sidogiri, Ahad 26 September 2021.

[2] Buku RAT Koperasi BMT Maslahah Tahun Buku 2019.

[3] Buku RAT Koperasi BMT UGT Nusantara Tahun Buku 2019