Didik Anak Mandiri dan Tangguh Melalui Bersepeda ke Sekolah

Jun 22, 2017 - 00:00
 290
Didik Anak Mandiri dan Tangguh  Melalui Bersepeda ke Sekolah

Saat melihat anak saya Fathimah Azzahrah (14 tahun) mengayuh sepeda ke sekolah di SMPN 1 Kraton yang berjarak sekitar 4 kilometer, Mahfudz (35 tahun) tetangga saya yang menjadi penjual koran dan pedagang tas berseloroh: “Kok anaknya mau naik sepeda ke sekolah? Anak saya tidak mau. Saya harus antar-jemput setiap hari!”

Saya sampaikan kepadanya bahwa anak saya itu tidak serta-merta langsung mau bersepeda ke sekolah. Selain harus memberi pengertian terlebih dahulu tentang manfaat bersepeda ke sekolah, memotivasinya bahwa ayahnya dulu juga bersepeda dari rumah ke SMPN 1 Pohjentrek yang berjarak sekitar 14 km pulang-pergi, saya juga melatihnya bersepeda ke sekolah.

Tidak tanggung-tanggung, saya melatih anak saya bersepeda ke sekolah pada bulan puasa.“Anak saya terlebih dahulu saya latih bersepeda ke sekolah. Bahkan, latihannya pada saat puasa Ramadhan. Sehabis sahur, saya ajak anak saya bersepeda ke SMPN 1 Kraton. Hal itu dilakukan tidak hanya sekali, bahkan berkali-kali. Latihannya terbukti berhasil sehingga anak saya mau naik sepeda ke sekolah,” kata saya pada Mahfudz.

Sebenarnya, bisa saja setiap hari saya mengantar dan menjemput anak saya ke sekolah. Namun, kalau hal itu saya lakukan, ada beberapa pelajaran berharga yang terlewatkan oleh anak saya. Padahal, pelajaran berharga itu sangat penting artinya bagi anak saya di masa mendatang. Sejatinya, di balik bersepeda ke sekolah itu memiliki banyak pelajaran berharga yang sangat sayang sekali bila dilewatkan begitu saja.

Ada tiga hal penting yang dapat menjadi pelajaran berharga bagi anak saya ketika mengayuh sepeda ke sekolah. Pertama, pelajaran tentang kemandirian. Dengan bersepeda ke sekolah, dia harus bisa mendiri mempersiapkan segala keperluannya sebelum berangkat ke sekolah. Dia tidak perlu menunggu ayahnya untuk berangkat ke sekolah. Pokoknya, kalau sudah waktunya berangkat ke sekolah, dia langsung mengeluarkan sepeda.

Beda halnya bila dia diantar ke sekolah. Dia harus menunggu yang akan mengantar ke sekolah siap, baru dia bisa berangkat. Artinya, waktu berangkatnya tergantung kepada seseorang yang akan mengantarnya ke sekolah. Dengan bersepeda ke sekolah, dia tidak perlu menunggu siapapun. Itu berarti, dia sendiri yang mengendalikan waktu keberangkatannya ke sekolah agar tidak sampai terlambat sampai di sekolah. Sekaligus di sini anak saya belajar mengatur waktu.

Selain itu, dia harus menyiapkan fisik yang tangguh terutama bersepda saat pulang sekolah. Bersepeda berangkat ke sekolah itu masih enak dan tidak melelahkan. Maklumlah, berangkat ke sekolah itu pada waktu pagi hari sehingga udara masih terasa sejuk dan segar. Namun berbeda rasanya saat pulang sekolah. Dia harus mengayuh sepeda di tengah terik matahari yang menyengat dan tidak jarang dengan perut yang keroncongan dan kehausan. Di sini dia harus melatih kesabaran menahan dahaga supaya bisa sampai ke rumah.

Kedua, belajar menghadapi berbagai tantangan sepanjang perjalanan dari rumah ke sekolah. Pelajaran ini sangat penting artinya bagi anak sebagai bekal bagi kehidupannya di masa yang akan datang. Bagaimanapun juga, nantinya anak saya harus menghadapi berbagai tantangan kehidupan nyata dalam masyarakat. Supaya tidak keget dengan tantangan dan kenyataan hidup, maka sejak dini dia harus belajar cara menghadapi berbagai macam tantangan di jalanan.  

Dengan mengayuh sepeda ke sekolah yang berjarak sekitar 4 km dari rumah, maka anak saya akan menghadapi banyak tantangan di jalan. Dia harus mampu mengayuh sepedanya dengan tenaga dan usahanya. Ketika di jalan, dia harus bisa menjaga antara kecepatan dan ketepatan supaya tidak bersenggolan dengan kendaraan lainnya.

Pelajaran menghadapi tantangan hidup seperti itu tidak akan didapat oleh anak yang diantar pulang dan pergi ke sekolah. Yang diantar ke sekolah dan pulangnya di jemput tinggal duduk manis saja. Dia tidak akan merasakan berbagai tantangan di jalanan. Dan tentu saja, dia tidak akan mengetahui pelajaran berharga di balik mengayuh sepeda ke sekolah.

Ketiga, bersepeda ke sekolah itu menyehatkan sekaligus berhemat. Tentu tidak akan ada yang menyangkal bahwa bersepeda itu merupakan salah satu bentuk olah raga yang murah dan menyehatkan. Selain menyehatkan, bersepeda ke sekolah itu juga berhemat. Pelajaran berhemat ini sangat penting sekali artinya bagi anak saya di masa mendatang.

Pelajaran berharga tentang bersepeda ke sekolah berikut tantangannya mengingatkan saya akan tulisan Renald Khasali tentang perbedaan antara sopir dan penumpang. Seorang sopir adalah orang yang berani mengambil resiko dan tanggung jawab. Seluruh panca indranya difungsikan saat mengendarai mobil di jalanan. Sedangkan, seorang penumpang hanya duduk manis saja.

Setelah menulis hal itu, Renald Khasali memberi contoh orang-orang sukses yang berani mengambil resiko sebagai “driver” saat masih muda. Mereka yang selagi masih mudah sudah terbiasa menghadapi berbagai tantangan kehidupan dan kesulitan hidup, merekalah akan menjadi orang-orang yang mandiri, tangguh dan tidak mudah menyerah. Sedangkan, mandiri, tangguh dan tidak mudah menyerah merupakan modal penting bagi setiap orang agar bisa sukses. Hal inilah yang hendak saya ajarkan pada anak saya dengan bersepeda ke sekolah.

Mokh. Syaiful Bakhri