BMT UGT dalam Berita Media: KETUA ANSOR: KH MAHMUD ALI ZAIN ADALAH MUHAMMAD YUNUS-NYA INDONESIA

Apr 24, 2014 - 00:00
 188
BMT UGT dalam Berita Media: KETUA ANSOR: KH MAHMUD ALI ZAIN ADALAH MUHAMMAD YUNUS-NYA INDONESIA

Ketua Umum GP Ansor Nusron Wahid mengaku, dalam pendirian BMT, ia mengikuti jejak dan berguru pada KH Mahmud Ali Zain asal Sidogiri Pasuruan, Jawa Timur. “Kiai Mahmud Ali Zain ini luar biasa. Beliau itu bisa kita sebut Muhammad Yunus-nya Indonesia,” puji Nusron.

Dalam kapasitas sebagai anggota DPR, beberapa tugas penting pernah diemban Nusron Wahid. Dia pernah menjadi ketua Panitia Khusus Rancangan Undang-Undang Otoritas Jasa Keuangan (Pansus RUU OJK). Nusron menyebut tugas itu paling penuh godaan selama menjadi wakil rakyat.

“Banyak datang tawaran uang dari pihak-pihak yang berkepentingan agar suatu pasal dibatalkan. Tapi saya katakan, tugas saya adalah meloloskan pasal, bukan membatalkannya,” ungkap anggota Komisi XI DPR dalam perbincangan santai di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan.

Namun, di tengah karier politik yang moncer itu, pria lulusan Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI) ini mengaku mendapat desakan dari sang istri, Dili Rosi Timadar, untuk menyudahi kariernya di legislatif. Istrinya merasa tidak lagi sreg jika ia terus menjadi anggota DPR.

“Saya sebenarnya sudah enggak boleh nyaleg (jadi calon legislatif, Red) sama istri. Ia malu,” ujar mantan wartawan ini. Rasa malu itu tidak lepas dari pandangan miring masyarakat terhadap lembaga pemutus anggaran negara ini karena ulah sejumlah anggotanya.

Oleh karena itu, meski dipasang di nomor urut dua untuk calon legislatif Partai Golongan Karya (Golkar) di daerah pemilihan Kudus, Demak, dan Jepara, ia mengaku tidak terlalu bergairah melengkapi persyaratan yang dibutuhkan. Sama halnya dengan keinginan istri, Nusron sebenarnya juga ingin berhenti menjadi anggota DPR untuk kemudian menepi dari hiruk-pikuk dan kegaduhan politik nasional, terutama Senayan.

Ia mengatakan, sejumlah profesi - seperti wartawan, peneliti, dosen, maupun anggota legislatif - pernah dijalani dan saat ini dia ingin memulai hidup sebagai orang biasa. Dengan profesinya saat ini, ia mengaku sering kali tidak menjadi diri sendiri. “Banyak kepalsuan di dunia politik. Saya ingin hidup easy going,” kata ketua umum Gerakan Pemuda (GP) Ansor ini.

Koperasi
Menurut Nusron, dua aktivitas yang akan dijalani setelah pensiun sebagai anggota DPR adalah mengurus lembaga keuangan mikro (baitul maal wat tamwil/BMT) dan memimpin pesantren. “Saat ini, saya sudah ada BMT dengan aset sekitar Rp 108 miliar di beberapa kota di Jawa Tengah. Jika, sudah tidak lagi jadi anggota DPR, saya akan mengurus itu dan hidup tenang di kampung halaman di Kudus,” ujarnya.

Koperasi Serba-Usaha (KSU) BMT Bina Mitra Mandiri yang ia dirikan bersama sejumlah kolega beberapa tahun silam kini telah memiliki 36 cabang yang tersebar di sejumlah kota di Jawa Tengah, yakni Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Demak, Blora, dan Karanganyar. Nusron mendirikan BMT dengan niat agar masyarakat dapat mengakses fasilitas kredit modal usaha dengan bunga ringan dan prosedur pelayanan yang tidak berbelit-belit.

“Yang paling dibutuhkan masyarakat itu adalah akses terhadap modal. Banyak dari mereka sebenarnya memiliki kemampuan berproduksi yang baik dan solusi BMT lebih tepat,” tegasnya.

BMT-nya itu, lanjut mantan ketua umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), selama ini menjadi penyalur kredit bank umum, seperti PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

Nusron mengaku, dalam pendirian BMT itu, ia mengikuti jejak dan berguru pada KH Mahmud Ali Zain asal Sidogiri Pasuruan, Jawa Timur. Menurut dia, BMT MMU yang didirikan Kiai Mahmud kini memiliki sekitar 1,2 juta nasabah dengan total aset Rp 3,6 triliun.

“Kiai Mahmud Ali Zain ini luar biasa. Beliau itu bisa kita sebut Muhammad Yunus-nya Indonesia,” puji Nusron. Yunus adalah pendiri Grameen Bank yang mengantarkannya sebagai pemenang hadiah Nobel Perdamaian.

Selain sektor ekonomi, pendidikan adalah sektor yang akan digeluti jika tidak lagi menjadi anggota DPR. Meski tidak memimpin secara langsung, di kota kelahirannya Nusron juga memiliki pesantren dan sekolah dari jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga sekolah menengah atas atau aliah.

Saat ini, pesantrennya memiliki sekitar 700 santri, sedangkan sekolahnya mendidik sekitar 2.800 murid, di manan sekitar 400 di antaranya tidak dipungut biaya. Tak hanya itu, Nusron juga membantu para buruh pabrik dengan menyediakan tempat penitipan anak (TPA), tak jauh dari lokasi pabrik. “Hanya di pungut Rp 30.000 per bulan per anak, mereka sudah mendapat sejumlah fasilitas, seperti susu,” ujarnya.

Nusron berharap, keberadaan TPA akan membuat para ibu bisa bekerja dengan lebih tenang, perasaan yang hendak ia buru setelah pensiun kelak. []

Editor: Syamsul Arifin Munawwir

Sumber: Investor Daily, beritasatu.com

Foto: Ketua Umum GP Ansor Nusron Wahid. (Investor Daily)