Berawal dari Niat Baik
Ada tiga koperasi syariah di Sidogiri yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya dan menjadi penyokong sukses Sidogiri dalam mengembangkan Islamic Microfinance. Yaitu Kopontren Sidogiri berdiri tahun 1961, Koperasi BMT Maslahah berdiri tahun 1997 dan Koperasi BMT UGT Sidogiri berdiri tahun 2000. Sukses ketiga koperasi itu melahirkan istilah Sidogirinomics. Istilah Sidogirinomics digunakan untuk menggambarkan bagaimana Sidogiri-- melalui tiga koperasi syariah tersebut---berhasil mengembangkan ekonomi Islam berbasis pondok pesantren.
Cikal bakal berdirinya Kopontren Sidogri bermula dari Kyai A. Sa’doellah Nawawie. Pejuang Hibulloh yang bertindak sebagai Ketua Umum sekaligus penanggung jawab Pondok Pesantren Sidogiri itu merintis berdirinya koperasi sebagai wadah belajar berwirausaha para santri. Badan hukum Kopontren Sidogiri diperoleh pada tahun 1997. Sejak saat itu Kopontren Sidogiri melakukan berbagai pembenahan keanggotaan, permodalan dan branding. Kini, dengan branding Basmalah: Tempat Belanja yang Baik Kopontren Sidogiri telah memiliki 146 cabang di Jawa Timur.
Koperasi BMT Maslahah berdiri saat Indonesia mulai terkena terpaan badai krisis monoter, 1997. Para asatidz Madrasah Miftahul Ulum (MMU) Pondok Pesantren Sidogiri (PPS) mendapat amanah dari pengasuh pondok untuk membantu para pedagang kecil di sekitar Sidogiri yang terkena jeratan renternir. Mereka meminjam uang Rp 100.000 tapi harus mengembalikan Rp 130.000.
Diawali dengan baik untuk menolong orang-orang yang tertindas renternir itu, para asatidz yang dimotori oleh H. Mahmud Ali Zain, Ustadz H. Khudlori Abd. Karim dan lainnya mendirikan sebuah Koperasi BMT yang pada awalnya diberi nama Koperasi BMT Maslahah Sidogiri. Hanya bermodalkan dana Rp 13.500.000 yang diperoleh dari partisipasi para usatidz MMU PPS.
Mereka bertekad mendirikan Koperasi BMT Maslahah meski tak seorang pun dari mereka tidak memiliki gelar sarjana dan tanpa pengalaman sedikitpun dalam mengelola koperasi.Namanya mendirikan lembaga ekonomi sedangkan mereka sama sekali tidak memiliki pengalaman sama sekali, Para asatidz yang semula bergelut dengan kitab kuning, kini harus berjibaku melawan rentenir dengan melalui wadah koperasi.
Lambat namun pasti, Koperasi BMT MMU Sidogiri berkembang dengan pesat. Kini memiliki ratusan kantor cabang di Jawa Timur. Seiring dengan perkembangannya, badan hukumnya pun dipeluas menjadi tingkat Jawa Timur dan namanya pun kemudian diubah menjadi Koperasi BMT Maslahah.
“Ketika awal berdirinya Koperasi BMT Maslahah, kami membayangkan modalnnya bisa berkembang sampai Rp 100 juta saja sudah hebat sekali. Namun, dengan niat baik, kami sama sekali tidak menyangka bias memiliki asset sampai lebih dari dua triliuan. Karena itu, kalua ditanya, apa rahasianya? Saya sendiri tidak tahu,” kata H. Mahmud Ali Zain.
Lalu, pada tahun 2000 mulai didirikan Koperasi BMT UGT Sidogiri. Semula kantornya ngampung di kantor Koperasi BMT Maslahah. Namun, pada usianya yang ke-18 ini, Koperasi BMT UGT Sidogiri telah menorehkan prestasi yang luar biasa baik dari segi anggota, cabang dan asset. Anggota Koperasi BMT UGT Sidogiri telah menembus angka 17 ribu lebih anggota, cabangnya telah mencapai 300-an di 10 provinsi di Indonesia dan asetnya telah mencapai Rp 2,8 trilun.
Foto: Penandatangan MoU Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat antara Baznas dengan Ketua Pengurus Koperasi BMT UGT Sidogiri H. Mahmud Ali Zain
(Mokh. Syaiful Bakhri__Penulis buku Sukses Koperasi Syariah di Sidogiri)

