Harmoni Kerja dan Ibadah
Ada nuansa relijius di kantor pusat Koperasi BMT UGT Sidogiri setiap pagi sebelum memulai kerja, siang hari saat azan dzuhur berkumandang dan sore sebelum mengakhiri kerja. Sebelum memulai bekerja, pengurus dan karyawan Koperasi BMT UGT Sidogiri melaksanakan shalat dhuha berjamaah. Siang hari ketika adzan dhuhur berkumandang mereka menghentikan seluruh aktivitas kerja untuk melaksanakan shalat dhuhur berjamaan. Dan sore hari sebelum pulang mereka terlebih dahulu menunaikan shalat asar berjamaah.
Pada pagi hari harmoni kerja dan ibadah dimulai. Setibanya di kantor, pengurus dan para karyawan Koperasi BMT UGT Sidogiri tidak langsung memulai kerja, melainkan mengambil air wudhu terlebih dahulu. Usai mengambil wudhu, mereka menuju mushalla yang ada di lantai tiga. Setelah jamaah berkumpul, kemudian salah seorang karyawan memimpin sebagai iman untuk melaksanakan shalat dhuha berjamaah.
Seusai melaksanakan shalat dhuha berjamaah, mereka melaksanakan doa bersama yang dikemas dalam kegiatan istighosah. Mereka bersama-sama memanjatkan doa memohon pertolongan dari Allah SWT. Dalam kegiatan istighosah ini mereka membaca Surah Yasin dan diakhiri dengan doa.
Khusus untuk hari Ahad, Rabu dan Kamis seusai melaksanakan shalat dhuha berjamaah, diadakan kuliah tujuh menit atau kultum yang diisi dari perwakilan direksi, pengurus dan pengawas Koperasi BMT UGT Sidogiri. Kala itu ketika penulis ikut melaksanakan shalat dhuha berjamaah yang mendapat giliran memberikan kultum adalah H. Mahmud Ali Zain.
Pada saat mengisi kultum, beliau mulai dengan membacakan ayat Al-Quran Surah Al-Imran ayat 190 sampai 191 yang artinya sebagai berikut:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (ulul albab). (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
Menurutnya, ulul al-bab itu memiliki tiga ciri yaitu pertama “orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring”; kedua, “mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau”; dan ketiga, “maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
Sekarang ini, lanjutnya, berkembang pemikiran yang sebenarnya dikembangkan dari konsep ulul al-bab yaitu konsep tentang tiga kecerdasan. Ketiga kecerdasan yang dimaksud yaitu kecerdasan intelektual (intelegent quotient), kecerdasan spiritual (spiritual question) dan kecerdasan emosional (emotional quotient).
Setelah membahas ketiga konsep kecerdasan tersebut, beliau memberikan motivasi kepada para karyawan agar senantiasa bekerja dengan cerdas, bekerja dengan keras, dan bekerja dengan ikhlas. Bekerja dengan cerdas yaitu bekerja sesuai dengan kompetensi dan pengetahuan yang dimiliknya sehingga dapat menyelesaikan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Tanpa dilandasi dengan ilmu, seseorang tidak dapat bekerja dengan cerdas.
Bekerja dengan keras maksudnya bekerja dengan sungguh-sungguh sehingga dapat menyelaikan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Banyak orang yang bekerja dengan sungguh-sungguh, namun bila tidak disertai dengan tujuan yang jelas, maka kerjanya hanya hilir mudik ke sana ke mari saja tanpa menghasilkan produktivitas. Bekerja keras berarti bekerja secara produktif.
Orang yang bekerja dengan produktif, menurutnya, tidak akan gampang terkena penyakit pikun karena setiap hari dia menggunakan karunia akal yang diberikan Allah kepadanya dengan sebaik-baiknya. Karena itulah, para kiai itu tida ada yang terkena penyakit pikun karena hampir setiap pagi mengisi pengajian dan membaca Al-Quran.
Meski bekerja dengan keras, jangan sampai melupakan waktu untuk mengingat kepada Allah SWT. “Karena itu, pada saat adzan dzuhur berkumandang hentikan seluruh aktivitas untuk melaksanakan shalat dhuhur berjamaah. Walau ada tamu sekalipun, harus bisa mengatur waktu sehingga para tamu yang datang tahu bahwa pada saat azan dhuhur berkumandang para karyawan Koperasi BMT UGT Sidogiri melaksanakan shalat dhuhur berjamaah,” papar H. Mahmud Ali Zain.
Kemudian pada sore hari sebelum pulang kerja, para karyawan dan pengurus melaksanakan shalat asar berjamaah. Ketika waktu asar sudah masuk, salah seorang karyawan mengumandangkan azan. Tepat jam 15.20 WIB para karyawan dan pengurus melaksanakan shalat asar berjamaah. Seusai shalat asar berjamaah, mereka pulang ke rumah masing-masin. Aduhai indahnya bekerja dengan nuansa relijius seperti itu. Kerja dan ibadah dalam satu harmoni. Mokh. Syaiful Bakhri
Foto: H. Mahmud Ali Zain

