Rahasia Lailatul Qadar (3)  

    Mokh Syaiful Bakhri Kamis,21 April 2022-09:08:47


     

    Wahab bin Munabbih mengisahkan bahwa ada seorang ahli ibadah di kalangan Bani Israil yang beribadah kepada Allah selama tiga ratus tahun dan dia berharap agar diberi wahyu
    seperti para Nabi. Maka Allah menumbuhkan baginya sebatang pohon kurma yang berbuah setiap malam yang bisa mencukupi kebutuhannya. Lalu hatinya menjadi tenang sebab
    buah kurma itu dan dia tidak diberi wahyu lagi.

    Kemudian ada seruan kepadanya: “Sungguh Aku tidak akan memberi wahyu kepada orang yang berpaling hatinya kepada sesuatu selain-Ku.”

    Orang ahli ibadah itu berkata: “Wahai Tuhanku, kepada apakah hatiku berpaling?” Maka diserukan kepadanya: “Kepada pohon kurma yang engkau makan buahnya.”
    Ahli ibadah itu kemudian menebang pohon kurmanya dan melanjutkan ibadahnya. Maka Tuhan berfirman kepadanya: “Sungguh para hamba-Ku mempunyai satu malam,
    yaitu malamqadaryang lebih baik daripada seluruh ibadahmu.”

    Menurut sebagian ulama, Nabi Nuh AS berdakwah kepada umatnya selama 950 tahun, sedang Nabi Muhammad SAW berdakwah kepada umatnya selama 23 tahun. Akan tetapi Nabi Muhammad SAW lebih baik daripada Nabi Nuh AS meski masa dakwahnya yang lebih pendek. Demikian juga dengan shalat dua rakaat pada malam Qadar dari umat Muhammad lebih besar pahalanya daripada berperang di jalan Allah selama seribu bulan yang dilakukan
    oleh kaum bani Israel. Keistimewaan tersebut semuanya adalah semata-mata karunia dan rahmat Tuhan kepada Muhammad dan umatnya.

    Para ulama berbeda pendapat dalam hal waktu tibanya malam Qadar. Sebagian ada yang berpendapat bahwa malam Qadar itu hanya terjadi pada masa Rasulullah. Namun
    mayoritas ulama mengatakan bahwa malam Qadar tetap adasampai hari kiamat.

    Demikian pula, para ulama berbeda pendapat dalam hal tanggal tibanya malam Qadar. Sebagian berpendapat, jatuh pada malam pertama di bulan Ramadhan. Sementara ada yang
    mengatakan jatuh pada malam ke-17 bulan Ramadhan.

    Sedangkan mayoritas ulama berpendapat, bahwa malam Qadar jatuh pada sepuluh malam yang terakhir di bulan Ramadhan. Malahan ada yang memastikan bahwa malam
    Lailatul Qadar itu jatuh pada malam ke-27 dari bulan Ramadhan.

    Abu Yazid al-Busthami mengatakan bahwa selama hidupnya dia melihat malam Lailatul Qadar dua kali dan keduanya jatuh pada malam ke-27.”

    Dalam kitab Haqâ-iqul Hanafy disebutkan bahwa huruf Lailatul Qadar itu ada sembilan dan Allah menyebutkan kata lailatul qadar sebanyak tiga kali di dalam al-Quran. Dengan
    demikian, berarti Lailatul Qadar itu jatuh pada malam ke- 27. Rahasia di balik misteri tibanya malam qadar itu bagi umat Muhammad mengandung hikmah agar mereka bersungguh-sungguh beribadah pada seluruh malam di bulan Ramadhan, sangat mengharapkan akan memperoleh malam qadar. Hal yang demikian sebagaimana dirahasiakannya waktu terkabul di hari Jum’at, shalat wustha di semua shalat lima
    waktu, ismul mu’adzam (nama Allah yang diagungkan) di antara nama-nama-Nya yang lain, dan keridhaan-Nya di dalam taat, agar mereka sama menyukai dan bersungguh-sungguh
    dalam keseluruhannya.

    Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa berdiri mengerjakan shalat pada satu
    saat pada malam Qadar meski hanya selama pengembala memerah susu kambing, lebih disukai Allah daripada berpuasa setahun penuh. Dan demi Allah yang telah
    mengutusku sebagai Nabi, sungguh membaca satu ayat dari al-Quran pada malam Qadar, lebih baik daripada mengatamkannya selain pada malam Qadar.”

    ‘Aisyah r.a. bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, kalau saya mendapati malam qadar, apakah yang harus saya baca?”

    Rasulullah bersabda: “Bacalah Allahumma innaka ‘afuwwun karîmun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annî (Ya Allah, sungguh Engkau adalah Maha Pengampun lagi Mahamulia, maka ampunilah saya).”Para ahli tafsir berbeda pendapat dalam mengartikan kata Arruhu dalam surah al-Qadar. Namun mereka umumnya berpendapat bahwa yang dimaksud Arruhu ialah malaikat Jibril.

    Menurut Ka’abil Ahbâri, sesungguhnya di Sidratul Muntaha terdapat malaikat yang hanya Allah sendiri yang mengetahui bilangannya. Mereka turun bersama Malaikat Jibril
    pada malam Qadar untuk berdoa dan memohonkan kebaikan orang-orang yang beriman baik laki-laki maupun perempuan.

    Dan Malaikat Jibril tidak meninggalkan seorang pun melainkan telah berjabat tangan dengannya. Tanda bahwa seseorang telah dijabat tangan oleh malaikat Jibril ialah dia gemetar tubuhnya, lunak hatinya dan bercucuran air matanya.

    Menurut sebagian ulama, yang dimaksud denganArruhu ialah satu malaikat yang sangat besar, sekiranya malaikat itu menggengam langit dan bumi, niscaya hanya sekali genggaman
    saja. Dan dia tidak diketahui oleh malaikat lainnya kecuali pada malam Qadar. Dia turun bersama dengan para malaikat lainnya untuk menemui orang-orang yang beriman dari umat
    Muhammad.

    Dikatakan juga bahwaArruhuialah segolongan malaikat yang tidak diketahui oleh para malaikat lainnya kecuali pada Lailatul Qadar. Dan dikatakan juga bahwa Arruhu adalah
    makhluk Allah yang juga makan dan berpakaian tetapi mereka itu bukan dari golongan malaikat dan bukan pula dari golongan manusia yang menjadi pelayan di surga.

    Ada pula yang menyebutkan bahwa Arruhu ialah Nabi Isa AS karena Arruhu ialah namanya. Dia turun bertepatan dengan para malaikat untuk menengok umat Muhammad.

    Sedangkan yang lainnya mengatakan, dia adalah satu daripada malaikat yang kedua kakinya di bawah bumi yang ketujuh dan kepalanya di bawah‘Arsy yang paling tinggi. Dia memiliki
    seribu kepala yang lebih besar daripada dunia; pada setiap kepalanya terdapat seribu wajah dan pada tiap-tiap wajahnyaterdapat seribu mulut dan pada tiap-tiap mulut terdapat seribu lidah sedang dia bertasbih kepada Allah dengan semua lidahnya. Maka dia turun pada malamQadardan memohonkan ampunan untuk umat Muhammad.

    Kata sementara ulama, yang dimaksud Arruhu ialah rahmat Allah. Pada Lailatul QadarAllah mengutus Malaikat Jibril dengan membawa rahmat kepada para hamba-Nya yang masih hidup, maka rahmat itu masih melebihi dari jumlah mereka.

    Lalu Allah berfirman, “Wahai Jibril, bagi-bagikanlah sisanya kepada mereka yang sudah mati.” Namun rahmat itu masih lebih. Maka Malaikat Jibril berkata, “Wahai Tuhanku,
    rahmat-Mu masih lebih dari jumlah mereka, maka apakah yang akan Engkau perintahkan lagi?”

    Allah berfirman: “Wahai Jibril, gudang-gudang rahmatKu masih penuh, maka bagikanlah yang masih sisa itu kepada orang-orang kafir di medan peperangan.” Lalu Malaikat Jibril
    membagikannya kepada orang yang diketahui mati dalam keadaan Islam.


    * Diadaptasi dari kitab Durratun Nâsihîn: fil wa’dh  wal irsyâd karya Usmân bin Hasan Ahmad as-Syâkir al-Khaibawi.


    Tinggalkan komentar:

    Baca Juga

    Bagikan 34.070 Paket Zakat Senilai Rp 1,9 Miliar

    2 minggu yang lalu

    Rahasia Lailatul Qadar (3)  

    3 minggu yang lalu

    Mobile UGT Bisa Cek Simpanan Anggota

    3 minggu yang lalu

    Rahasia Lailatul Qadar (2)

    1 bulan yang lalu

    Rahasia Lailatul Qadar (1)

    1 bulan yang lalu